KabarMakassar.com — Dari sebuah pertanyaan sederhana hingga jadi pusat kreativitas kota. Itulah kisah blak-blakan di balik lahirnya Makassar Creative Hub (MCH), program unggulan perdana Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.
Peluncuran resmi MCH digelar di Anjungan Pantai Losari, Sabtu (21/06) malam, dengan meriah. Di hadapan ratusan tamu undangan, dari kalangan OPD, komunitas kreatif, hingga perwakilan negara sahabat, sebuah testimoni datang dari salah satu Tim Ahli Pemkot Makassar, Dara Nasution.
Dara yang juga merupakan penggagas program MCH, membuka cerita di balik lahirnya ruang kreatif ini. Ia menyebut semuanya bermula dari satu pertanyaan yang berani dilontarkan saat merancang visi-misi pemerintahan baru.
“Saat itu, kami hanya bertanya: bolehkah kami, anak muda Makassar, bermimpi lebih besar dari sekadar bertahan hidup? Jawaban dari Pak Wali dan Bu Wawali adalah, boleh, bahkan harus,” ungkap Dara.
Dara melanjutkan, ide tentang MCH muncul dari keresahan kolektif para pemuda-pemudi kota. Banyak yang punya potensi di bidang kreatif, tetapi tidak punya akses ruang, pelatihan, atau jaringan. Bahkan untuk sekadar berkumpul dan belajar bersama, mereka harus berpindah dari satu kafe ke sudut kota lainnya.
“Makassar Creative Hub bukan ide instan. Ini lahir dari curahan, keresahan, dan semangat. MCH adalah mimpi yang akhirnya kami perjuangkan bersama,” tegasnya.
Menurutnya, MCH tidak hanya hadir sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai simbol perubahan cara pandang sebuah kota terhadap anak mudanya. Ini adalah ruang tumbuh yang menghubungkan talenta muda dengan peluang, jejaring, pelatihan, hingga sertifikasi kerja.
Dara mengungkapkan bahwa MCH juga lahir dari kerja cepat. Renovasi gedung dilakukan hanya dalam waktu 100 hari, meski prosesnya beririsan dengan libur nasional.
“Bayangkan, hanya 100 hari dan kami punya rumah baru bagi mimpi-mimpi besar itu,” ucapnya.
Ia juga blak-blakan menyebut banyak tantangan internal selama prosesnya, mulai dari birokrasi yang kaku hingga anggapan sinis bahwa ruang seperti MCH tak akan berdampak signifikan.
“Tapi kami percaya, kota ini tak akan tumbuh kalau talenta anak mudanya tidak diberi ruang. MCH adalah bentuk kepercayaan kami kepada mereka,” ujarnya.
Peluncuran MCH menjadi simbol nyata bahwa kreativitas di Makassar kini ditempatkan sebagai fondasi pembangunan. Dara menegaskan, Wali Kota dan Wakil Wali Kota secara konsisten mendorong pembangunan berbasis kolaborasi dan inovasi, bukan sekadar betonisasi atau proyek fisik.
“Makassar sekarang punya rumah ide. Tempat ini bukan cuma untuk pelatihan, tapi juga laboratorium gagasan, pusat karya, dan ruang jejaring,” tuturnya.
Dalam pengembangannya, MCH digerakkan lintas dinas. Dinas Pariwisata menjadi leading sector, didukung Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Koperasi dan UKM, Diskominfo, hingga Dinas Ketenagakerjaan.
Semua dinas ini bekerja sama untuk merancang program, menyiapkan pelatihan, hingga membuka koneksi dengan dunia usaha.
MCH pun bertumpu pada lima prinsip utama: memfasilitasi ruang belajar, membuka peluang kerja baru, memperkuat ekonomi kreatif, memosisikan Makassar sebagai barometer ekonomi kreatif Indonesia Timur, dan mendukung festival serta budaya lokal.
Program unggulan MCH mencakup lebih dari 50 workshop dan inkubasi, mulai dari Creative Writing, Social Media Marketing, City Branding, Inkubator Produser Pertunjukan, hingga Sinrilik—warisan budaya lokal yang dikemas kreatif.
Forum-forum diskusi strategis seperti Mind, Talent and Capital Mapping dan Forum Bisnis Film juga akan mempertemukan komunitas dengan investor dan pelaku industri nasional.
Dengan lahirnya MCH, Dara berharap Makassar tak hanya dikenal sebagai kota kuliner atau destinasi wisata, tetapi sebagai simpul ekosistem kreatif terbesar di Indonesia Timur.
“MCH ini bukan akhir, tapi titik tolak. Kami bermimpi, kelak anak-anak muda dari lorong-lorong bisa tampil di panggung nasional karena pernah belajar di sini,” terangnya.
MCH kini resmi berdiri sebagai rumah besar kreativitas, yang lahir dari keberanian bertanya, kepercayaan pemimpin, dan kegigihan anak muda yang tak takut bermimpi besar.














