KabarMakassar.com — Sejumlah tantangan dihadapi oleh masyarakat Kuri Caddi Maros terhadap mata pencaharian yang mereka miliki.
Tercatat, sebanyak 90 persen warga menggantungkan hidup dari kepiting rajungan yang ditangkap di laut.
Kepala Dusun Kuri Caddi, Sapri, menyampaikan, jika tantangan yang dihadapi bagi masyarakat nelayan di Dusun Kuri Caddi mulai dari cantrang hingga biaya transportasi.
“Tantangan yang dihadapi di Dusun Kuri Caddi itu ada cantrang, dimana cantrang beserta dengan alat tangkap lain yang bergerak yang menghancurkan ekosistem laut,” terangnya, Sabtu (18/07).
“Hal itu sebenarnya menghancurkan bibit-bibit kepiting atau rajungan serta merusak alat-alat nelayan yang menangkap rajungan,” tambahnya.
Selanjutnya tantangan kedua, terdapat pada harapan adanya subsidi BBM yang murah untuk masyarakat sehingga dapat mengurangi daripada biaya transportasi mereka dalam menangkap rajungan.
“Harapannya, kedepan pemerintah atau pihak terkait mampu memberikan bantuan yakni berupa tanggul pemecah ombak di Dusun Kuri Caddi, agar pada waktu musim angina atau musim penghujan masyarakat dapat tenang, perahunya tenang, dalam menghadapi ombak-ombak yang besar,” katanya.
Dengan hal tersebut maka para nelayan dapat menjadi aman di pantai, terlebih pada musim ombak abrasi kian parah karena tak adanya tanggul pemecah ombak. Karena periode ombak kencang mulai dari bulan Desember sampai dengan bulan Maret.
“Desember sampai Maret, jadi masyarakat kami pada saat musim penghujan harus dapat berputar, berlindung di hutan bakau yang kurang lebih 10 kilometer, Jadi harus jalan kaki ke sana setiap tahun,” ungkapnya.
Sapri menyebut, jika perahu harus berlindung ke sana. Karena jika tidak berlindung maka harus menghadapi masalah seperti perahu yang rusak dan akan terdampar ke bibir pantai.
Sebagai informasi, cantrang merupakan alat seperti pukat harimau yang alatnya dapat bergerak menarik dan merusak hal yang dilewati oleh cantrang, sehingga berbahaya bagi ekosistem.
