KabarMakassar.com — Fennawawaty, pelaku UMKM Makassar yang sukses kembangkan usaha kantin dan buka lapangan kerja bermodal Rp3 juta dari PNM Mekaar.
Sebelum mengenal program PNM Mekaar, Fennawaty Tanuwijaya, seorang warga asal Pa’lambasan, Makassar, Sulawesi Selatan, harus berjuang keras seorang diri. Setiap hari, ia mengelola kantin kecilnya dengan modal yang sangat terbatas. Akibatnya, ia hanya mampu memproduksi sedikit variasi makanan tanpa bantuan dari siapa pun, termasuk keluarga.
Usaha kecilnya kala itu kerap luput dari perhatian, sementara hasil pendapatan sehari-hari pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan yang serba pas-pasan. Namun di balik keterbatasan tersebut, Fennawaty menyimpan mimpi besar yang tak pernah padam: memiliki usaha yang berkembang dan mampu mempekerjakan orang-orang di sekitarnya.
Mimpi itu mulai menemukan titik terang pada tahun 2025 lalu. Kehidupannya berubah drastis setelah ia mendapatkan akses pembiayaan modal usaha tanpa agunan dari PNM Mekaar senilai Rp3.000.000.
Perubahan yang dirasakan Fennawaty setelah bergabung dengan PNM Mekaar pada siklus pertamanya terasa sangat nyata dan langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.
Modal yang diterimanya tidak hanya digunakan untuk menambah stok bahan baku, tetapi juga membuka ruang bagi Fennawaty untuk memperluas jenis kuliner yang diproduksi. Hasilnya, kantinnya kian ramai diserbu pembeli.
Omzetnya melonjak tajam. Menariknya, ia kini berhasil mewujudkan impian lamanya, yaitu membuka lapangan pekerjaan bagi para tetangga di sekitar rumahnya.
“Dulu, saya hanya bisa memproduksi sangat sedikit makanan di kantin karena modal yang sangat terbatas. Berjuang sendiri tanpa bantuan. Tapi setelah mendapat pembiayaan dari PNM Mekaar, produksi saya melonjak, banyak yang minat datang, omzet naik, dan saya bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk tetangga sekitar,” tutur Fennawaty bahagia.
Merespons keberhasilan ini, Pemimpin Cabang PNM Makassar, Yazdi Anugrah, menyebutkan bahwa kisah Fennawaty adalah gambaran nyata dari visi dan tujuan PNM Mekaar sejak pertama kali hadir di Sulawesi Selatan.
Menurut Yazdi, keberhasilan nasabah tidak hanya ditentukan oleh besarnya nominal finansial yang dikucurkan, melainkan bagaimana PNM hadir memberikan pendampingan komprehensif melalui tiga pilar modal finansial, intelektual, dan sosial.
“PNM memberikan tiga jenis modal kepada nasabahnya, yaitu modal usaha (finansial), modal intelektual, dan modal sosial. Kegiatan PKU (Pengembangan Kapasitas Usaha) adalah bagian dari modal intelektual yang kami berikan agar nasabah tidak hanya mendapat pinjaman, tetapi juga bekal ilmu untuk terus tumbuh,” jelas Yazdi.
Bagi Fennawaty, pembiayaan dari PNM Mekaar bukan sekadar pinjaman uang, melainkan sebuah amanah besar yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena PNM sangat membantu permodalan usaha saya dengan proses yang cepat. Bagi saya, modal ini adalah amanah yang harus saya jaga agar bisa menjadi manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Kisah inspiratif Fennawaty menjadi bukti nyata bahwa ketika pelaku UMKM perempuan prasejahtera diberi akses pembiayaan yang tepat, tanpa prosedur rumit dan tanpa agunan, potensi mereka dapat berkembang secara optimal. Kantin yang dulunya sepi, kini bertransformasi menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
