Indeks
News  

300 Penari Tampilkan Tari Pagellu’ Tua di Pembukaan Toraya Magellu’ 2026

300 Penari Tampilkan Tari Pagellu' Tua di Pembukaan Toraya Magellu' 2026
300 Penari Tampilkan Tari Pagellu' Tua di Pembukaan Toraya Magellu' 2026. (Dok: Jerni)

KabarMakassar.com — Pembukaan Event Budaya Toraya Magellu’ 2026 berlangsung meriah di Alun-Alun Kota Rantepao, Toraja Utara, Jumat (19/6).

Acara ini diawali dengan penampilan memukau Tari Pagellu’ Tua yang dibawakan secara kolosal oleh 300 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.

Para penari yang terlibat datang dari lintas generasi, mulai dari anak-anak usia PAUD/TK, pelajar SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga unsur pemerintahan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Tarian asal daerah Pangala’ ini merupakan karya seni yang diciptakan oleh Nek Ballai’. Gerakan-gerakannya terinspirasi dari aktivitas hewan yang dekat dengan keseharian masyarakat Toraja terdahulu. Tari Pagellu’ Tua diawali dengan gerakan Pabukka’, sebuah gerakan pembuka sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu undangan yang hadir.

Tarian tradisional ini kaya akan makna dan menceritakan rutinitas serta kearifan lokal masyarakat zaman dulu melalui 12 gerakan inti:

  1. Padena’-dena’: Gerakan melompat-lompat kecil yang terinspirasi dari burung pipit di atas jemuran padi.

  2. Gellu’ Tua: Gerakan inti yang menjadi fondasi dasar dari seluruh rangkaian tarian.

  3. Patulekkan: Gerakan yang menggambarkan momen istirahat sejenak untuk melepas lelah di tengah bekerja.

  4. Pangallo: Gerakan menjemur padi (pare kutu’).

  5. Pangra’pak Pentallun: Gerakan menekuk batang padi yang diikat anyaman bambu kecil (bunu’) sebanyak tiga kali saat menjemur.

  6. Penggirik yang Tarru’: Gerakan setengah putaran bolak-balik mengikuti arah matahari untuk memastikan padi kering merata.

  7. Pasiri: Gerakan menampi padi yang sudah ditumbuk menjadi beras.

  8. Pa’kaa-kaa Bale: Terinspirasi dari sirip ikan yang berenang, menggambarkan warga yang menuju sungai untuk membersihkan diri usai menjemur padi.

  9. Pannorong: Gerakan maju-mundur menyerupai orang berenang, menyesuaikan diri dengan arus sungai.

  10. Pa’tengka-tengka: Gerakan langkah kaki berirama saat berjalan pulang dari sungai.

  11. Pa’langkan-langkan: Gerakan meliuk-liuk anggun yang meniru kepakan sayap burung elang di atas sungai.

  12. Pangrampanan: Gerakan melenturkan tubuh sebagai simbol melepaskan segala beban pekerjaan.

Tarian ini kemudian diakhiri dengan Patutu’, sebuah gerakan penutup yang berfungsi sebagai penghormatan terakhir sekaligus ungkapan terima kasih kepada penonton.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Toraja Utara, Damayanti Batti Palimbong yang juga turut serta menjadi salah satu penari menjelaskan bahwa pementasan Tari Pagellu’ Tua di pembukaan event ini memikul misi kebudayaan yang penting.

“Tarian Pagellu’ Tua ini sengaja kita tampilkan sebagai pengingat bagi generasi muda bahwa kita memiliki tarian tradisional bernilai tinggi yang perlu dilestarikan,” ujar Damayanti.

Ia menambahkan, Tari Pagellu’ pada dasarnya dipentaskan sebagai sarana hiburan, ungkapan kegembiraan, dan wujud sukacita. Tarian ini lumrah dijumpai pada upacara adat Rambu Tuka’ (acara riang gembira), seperti pentahbisan rumah adat (Mangrara Banua), syukuran panen, maupun penyambutan tamu kehormatan.

Sebagai informasi, Event Budaya Toraya Magellu’ 2026 merupakan agenda prestisius yang berhasil masuk dalam urutan ke-107 dari 125 Karisma Event Nasional (KEN) 2026 yang diluncurkan oleh Kementerian Pariwisata.

Kegiatan berskala nasional ini dipusatkan di Gedung Art Center Rantepao selama dua hari, yakni 19-20 Juni 2026, dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

error: Content is protected !!
Exit mobile version