KabarMakassar.com — Game kebugaran berbasis teknologi virtual reality (VR) kini kian diminati karena mampu mengubah olahraga menjadi aktivitas menyenangkan dan imersif. Tak hanya membuat tubuh aktif, penelitian menunjukkan game ini juga berpotensi meningkatkan fungsi kognitif, terutama pada lansia dan penderita gangguan saraf.
Permainan tersebut memanfaatkan teknologi seperti sensor gerak dan pengontrol khusus untuk memungkinkan pemain bergerak secara aktif saat bermain.
Gerakan seperti melompat, berlari, meninju, sampai menari menjadi bagian dari mekanisme permainan, membuat tubuh tetap bergerak selama sesi bermain.
Tujuan utama dari game tersebut adalah untuk menjadikan kebugaran sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan beban.
Dengan menyertakan elemen kompetisi, interaksi sosial, serta sistem poin atau penghargaan, game ini mendorong motivasi dan komitmen pengguna untuk berolahraga secara teratur.
Seiring waktu, genre ini telah mengalami perkembangan signifikan dari versi awalnya yang sederhana menjadi pengalaman yang lebih kompleks juga realistis.
Kemajuan teknologi kemudian membawa game kebugaran ke level berikutnya, termasuk penerapan virtual reality (VR) dan realitas campuran (MR).
Saat ini telah hadir kategori baru bernama kebugaran VR, yang memadukan latihan fisik dengan dunia virtual yang imersif.
Dalam kebugaran VR, pemain mengenakan headset VR yang memungkinkan mereka untuk masuk ke lingkungan digital tiga dimensi yang terasa nyata.
Mereka mampu berinteraksi langsung dengan objek dan pelatih virtual menggunakan gerakan tubuh dan isyarat tangan.
Pengalaman ini berbeda dari game tradisional karena tidak hanya melibatkan mata dan tangan, namun juga seluruh tubuh.
Salah satu contoh pengalaman ini yakni game seperti Dance Dance Revolution, namun dengan peningkatan imersi karena anda seolah benar-benar berada dalam lingkungan tersebut.
Aplikasi seperti Litesport memungkinkan pengguna untuk merasakan seolah mereka berada di ring tinju virtual atau ruang latihan bergaya studio, semua bisa didapatkan dari rumah.
Pelatih tidak lagi hanya muncul sebagai gambar di layar, melainkan hadir sebagai karakter tiga dimensi yang dapat berinteraksi langsung dengan anda.
Pendekatan ini tidak hanya membuat latihan menjadi lebih efektif, namun juga mengubahnya menjadi aktivitas yang seru layaknya bermain video game.
Dilansir dari Litesport, selain menyenangkan kebugaran VR juga memberikan sejumlah manfaat, diantaranya adalah:
1. Tingkatkan fungsi kognitif
Selama ini, kita sering mendengar jika bermain video game berdampak negatif bagi otak. Tetapi, anggapan ini tidak sepenuhnya benar, terutama jika yang dimainkan adalah game kebugaran.
Sebuah studi pada tahun 2020 yang diterbitkan oleh jurnal JMIR Serious Games menganalisis 10 penelitian dengan lebih dari 700 peserta. Hasilnya menunjukkan jika game kebugaran dapat meningkatkan fungsi kognitif pada orang dengan gangguan kognitif ringan maupun demensia.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas fisik yang dibalut dengan elemen permainan interaktif dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan otak.
Penelitian lain dalam Games for Health Journal turut mendukung hal ini. Mereka menemukan bahwa game kebugaran membantu meningkatkan fungsi eksekutif serta kemampuan melakukan dua tugas sekaligus pada lansia.
Dengan kata lain, bermain game sambil bergerak aktif dapat menjadi cara menyenangkan untuk melawan penurunan fungsi otak yang biasanya terjadi seiring bertambahnya usia.
Menariknya, manfaat serupa juga terlihat pada penderita Parkinson. Walau masih diperlukan studi lebih lanjut, bukti awal ini menunjukkan bahwa game kebugaran berpotensi menjadi alat bantu yang efektif untuk kesehatan kognitif.
2. Mengurangi upaya yang dirasakan dan meningkatkan kinerja
Salah satu keuntungan utama dari latihan yang terasa seperti bermain yaitu anda mungkin tidak sadar seberapa keras anda sebenarnya berolahraga.
Dalam sebuah studi tahun 2018 yang dimuat di Games for Health Journal, peneliti menemukan jika pemain game kebugaran VR sering kali meremehkan seberapa banyak energi yang mereka keluarkan selama bermain.
Peserta penelitian menganggap lari di treadmill sebagai aktivitas dengan intensitas sedang, sedangkan mereka menyebut latihan menggunakan VR sebagai aktivitas ringan, padahal kalori yang dibakar jumlahnya setara.
Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang menikmati aktivitas fisiknya, maka mereka cenderung tidak menyadari beban latihannya secara penuh.
Penelitian lain dari tahun 2019 yang diterbitkan di Psychology of Sport and Exercise turut mendukung temuan ini. Dalam studi tersebut, dua kelompok dewasa melakukan latihan bicep curls dimana satu melakukan di gym biasa, satu lagi di lingkungan VR.
Hasilnya, kelompok VR melaporkan rasa nyeri 10 persen lebih rendah, detak jantung lebih stabil, dan mampu berlatih lebih lama. Studi ini memperkuat gagasan bahwa VR mampu mengurangi rasa sakit dan kelelahan yang biasanya menyertai latihan fisik.
3. Menawarkan banyak variasi dan kenyamanan
Kebugaran berbasis VR memberikan akses yang luas ke berbagai jenis latihan serta latar latihan, mulai dari bertinju di ring virtual hingga mengikuti kelas Zumba atau yoga dengan latar pemandangan alam yang cukup memukau.
Dengan menggunakan headset VR, maka anda bisa menikmati semua variasi latihan ini langsung dari rumah. Ini memberi kebebasan untuk mencoba berbagai jenis olahraga serta menemukan rutinitas yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi Anda.
Platform seperti Litesport menawarkan berbagai pilihan menarik contohnya tinju, boot camp, hingga latihan kekuatan. Anda juga dapat memilih pelatih yang berbeda serta variasi musik, dengan sesi latihan baru yang terus diperbarui setiap harinya.
Latihan pun terasa lebih nyaman dan tidak mengintimidasi di dunia virtual. Contohnya, jika latihan kekuatan terasa menakutkan di gym konvensional, di VR hal ini bisa berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mudah diikuti.














