kabarbursa.com
kabarbursa.com

Perbankan Syariah Catat Pertumbuhan Positif, Mei 2024

Pertumbuhan Perbankan Syariah di Sulsel Ungguli Konvensional
Ilustrasi Bank (Dok : KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulsel Sulbar) catat sektor perbankan syariah di Sulawesi Selatan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada Mei 2024. Total aset perbankan syariah mengalami kenaikan sebesar 18,08 persen (yoy), mencapai Rp14,99 triliun.

Kepala OJK Sulsel, Darwisman, dalam keterangan resminya yang dikutio Jumat (19/07) menyebut, selain pertumbuhan total aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat tajam, dengan pertumbuhan sebesar 27,08 persen (yoy) menjadi Rp10,90 triliun.

“Penyaluran pembiayaan syariah tumbuh sebesar 17,06 persen (yoy), mencapai Rp12,70 triliun. Tingkat intermediasi perbankan syariah berada pada level 116,48 persen dengan Non-Performing Financing (NPF) di level aman sebesar 2,51 persen,” terangnya.

Secara keseluruhan, lanjut Darwisman, total aset perbankan di Sulawesi Selatan pada posisi Mei 2024 tumbuh sebesar 7,98 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp193,36 triliun. Aset tersebut terdiri dari aset Bank Umum sebesar Rp189,61 triliun dan aset Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebesar Rp3,74 triliun. DPK di Sulawesi Selatan tumbuh sebesar 9,06 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp130,09 triliun.

Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh sebesar 9,58 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp160,21 triliun. Penyaluran kredit di wilayah ini didominasi oleh kredit produktif sebesar 55,49 persen.

Sektor ekonomi yang paling banyak menerima kredit adalah sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi sebesar 24,07 persen. Kinerja intermediasi perbankan Sulawesi Selatan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 125,56 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level aman sebesar 3,25 persen.

Perkembangan positif ini tidak hanya terjadi di sektor perbankan konvensional tetapi juga terlihat pada sektor perbankan syariah. Pada Mei 2024, total aset perbankan syariah meningkat menjadi Rp14,99 triliun, tumbuh 18,08 persen (yoy).

Penghimpunan DPK di sektor syariah juga menunjukkan peningkatan yang signifikan, mencapai Rp10,90 triliun atau tumbuh 27,08 persen (yoy).

Selain itu, penyaluran pembiayaan syariah tumbuh sebesar 17,06 persen (yoy), mencapai Rp12,70 triliun. Tingkat intermediasi perbankan syariah berada pada level yang sehat dengan LDR sebesar 116,48 persen dan NPF di level aman sebesar 2,51 persen.

“Sementara itu, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulawesi Selatan juga menunjukkan kinerja positif pada April 2024. Perusahaan pembiayaan mencatat pertumbuhan total piutang sebesar 12,69 persen (yoy) mencapai Rp18,29 triliun,” lanjutnya.

Pembiayaan modal ventura tumbuh sebesar 1,13 persen (yoy), mencapai Rp389 miliar, sementara pinjaman yang disalurkan oleh perusahaan pergadaian meningkat sebesar 29,23 persen (yoy), mencapai Rp6,54 triliun. Fintech peer-to-peer lending (Fintech P2PL) di Sulawesi Selatan juga mencatat kinerja positif dengan peningkatan jumlah outstanding pinjaman sebesar 34,10 persen (yoy), mencapai Rp1,35 triliun. Tingkat wanprestasi pada fintech P2PL tetap terjaga di angka 1,56 persen.

Darwisman menyatakan bahwa pertumbuhan positif ini mencerminkan optimisme terhadap kinerja sektor keuangan di Sulawesi Selatan. Dengan berbagai indikator yang menunjukkan peningkatan, baik di sektor perbankan konvensional, perbankan syariah, maupun IKNB, diharapkan perekonomian di wilayah ini terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini juga menunjukkan bahwa sektor keuangan di Sulawesi Selatan semakin solid dan mampu menghadapi tantangan ekonomi yang ada.

Selain itu, Darwisman juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi keuangan di masyarakat. Menurutnya, pemahaman yang baik tentang produk dan layanan keuangan akan membantu masyarakat dalam mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak.

“OJK akan terus berupaya meningkatkan literasi keuangan melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi, sehingga masyarakat dapat lebih memahami dan memanfaatkan produk keuangan dengan optimal,” tambahnya.

error: Content is protected !!