kabarbursa.com
kabarbursa.com

Perang Israel-Iran Picu Gejolak Minyak Global, Pemerintah Diminta Perketat Efisiensi

Perang Israel-Iran Picu Gejolak Minyak Global, Pemerintah Diminta Perketat Efisiensi
Pengamat Ekonomi, Keuangan dan Perbankan, Sutardjo Tui (Dok: Ist)

KabarMakassar.com — Seiring dengan perang Israel-Iran yang kian memanas, harga minyak dunia menjadi semakin bergejolak.

Ketegangan makin menjadi usai Amerika Serikat membantu Israel menyerang Iran, dan menimbulkan kekhawatiran pasokan.

Berdasarkan Reuters pada Senin (23/06), minyak mentah Brent berjangka naik US$ 1,92 atau 2,49 persen ke level US$ 78,93 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate AS juga naik US$ 1,89 atau 2,56 persen menjadi US$ 75,73 per barel.

Pengamat Ekonomi, Keuangan dan Perbankan, Sutardjo Tui mengatakan, adanya perang menyebabkan saluran distribusi terhenti.

“Perang Iran dan Israel, keduanya merupakan penghasil minyak. Distribusi ke Indonesia terganggu karena masalah perang,” tukasnya.

Apabila supply chain terganggu, kata Sutardjo, maka mengakibatkan pemasokan minyak menjadi berkurang.

“Karena ada perang, produksi tidak jalan. Ataupun produksinya ada tapi tidak bisa keluar. Sehingga stok yang ada di dunia tidak jalan atau tidak lancar supply chainnya,” paparnya.

Ia menyoroti kedua negara yang menjadi produsen inti dan mengungkapkan jika dampaknya akan mempengaruhi terhadap harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kenaikan harga BBM, ungkap Sutardjo bisa tidak terjadi apabila pemerintah Indonesia menaikkan subsidi.

“Kan selama ini harganya sudah naik, tapi di subsidi sama pemerintah, apakah tetap subsidi ada? Tetap dinaikkan harga BBM atau tidak oleh pemerintah? Tergantung dengan kebijakan oleh Indonesia,” jelasnya.

“Apakah menambah subsidi atau tidak, kalau tidak menambah subsidi berarti jangkauannya adalah harga BBM naik, kalau menambah subsidi berarti harga jual BBM dalam negeri tidak naik,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menyatakan, pemerintah dapat mengurangi dampak buruk perang dengan meningkatkan efisiensi.

“Perang itu makin banyak terjadi lonjakan harga. Lonjakan harga itu berarti kita mesti efisien, artinya yang tidak perlu itu oleh pemerintah jangan dilakukan investasi,” imbuhnya.

Jika terjadi pengurangan subsidi maka BBM dapat naik dan dipastikan mempengaruhi perekonomian di Indonesia tidak terkecuali di Sulawesi Selatan.

“Tinggal diminta kesadarannya pemerintah sementara masih perang ini, efisiensi tolong diperketat supaya tetap ada uang negara untuk mengantisipasi kelonjakan harga BBM,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi pengumuman mengejutkan dimana Washington secara langsung memasuki konflik Israel-Iran, melancarkan serangan terhadap tiga lokasi nuklir Iran di Natanz, Isfahan dan Fordo.

Apabila Iran menutup Selat Hormuz maka berdasarkan analis energi hal tersebut akan menjadi skenario terburuk untuk pasar minyak.

Berdasarkan Badan Informasi Energi, terdapat sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari atau 20 persen dari konsumsi global mengalir lewat selat tersebut di tahun 2024.

Loading