KabarMakassar.com — Ketua Gabungan Perusahaan Eksport Indonesia Sulawesi Selatan (GPEI Sulsel), Arief R. Pabettingi, mengungkapkan ekspor komoditas kakao dari Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu penyebab utama adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk panen kakao, sementara petani lebih memilih komoditas yang dapat dipanen lebih sering dalam setahun.
Menurut Arief, kakao membutuhkan waktu yang panjang untuk panen, dengan siklus panen yang hanya sekali setahun atau bahkan dua tahun sekali.
“Petani cenderung mencari komoditas yang bisa dipanen lebih cepat, 2-3 kali dalam setahun, untuk meningkatkan pendapatan mereka,” jelasnya, Senin (2/6).
Selain itu, harga kakao di pasar dunia juga mengalami penurunan, sehingga keuntungan yang diperoleh dari budidaya kakao tidak sebesar sebelumnya.
Hal ini mendorong banyak petani untuk beralih ke komoditas lain yang lebih cepat panen dan lebih menguntungkan.
Ia menyebut, saat ini petani lebih banyak beralih ke komoditas rempah-rempah seperti merica dan cengkeh.
Komoditas ini tidak hanya memiliki siklus panen yang lebih singkat, tetapi juga menawarkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kakao.
“Kakao membutuhkan lahan yang luas, dan dengan harga yang menurun serta siklus panen yang lama, banyak petani memilih untuk beralih ke sektor pertanian lain yang lebih menguntungkan,” tambah Arief.












