KabarMakassar.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound dan ditutup menguat sebesar 0,56% ke level 7.297 pada penutupan perdagangan awal pekan Senin (12/08) kemarin setelah sempat menghabiskan sebagian besar waktu di zona merah.
Menurut data RTI yang dikutip Selasa (13/08), IHSG mencapai level tertinggi di 7.297 dan terendah di 7.230 sepanjang hari perdagangan kemarin. Volume perdagangan mencapai 16,6 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,7 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 932 ribu kali.
Sebanyak 337 saham mencatatkan kenaikan, 206 saham mengalami penurunan, sementara 249 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 12.396 triliun.
Di bursa saham Asia, Hang Seng Index Hong Kong naik tipis 0,13% ke level 17.111, sedangkan Shanghai Composite Index turun 0,14% ke level 2.858. Straits Times Index Singapura mengalami penurunan 0,80% ke level 3.235, sementara LQ45 naik tipis 0,01% ke 908,1.
Delapan indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat, yang menopang kenaikan IHSG, sementara tiga indeks sektoral lainnya mengalami penurunan.
Sektor energi mencatat kenaikan tertinggi dengan peningkatan sebesar 3,23%, diikuti oleh sektor teknologi yang naik 2,26%, dan sektor barang konsumen non-primer yang naik 1,23%.
Di sisi lain, sektor kesehatan mengalami penurunan sebesar 0,28%, sektor transportasi turun 0,22%, dan sektor properti turun 0,06%.
Total volume perdagangan saham di BEI hari ini mencapai 16,50 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 6,76 triliun.
Top gainers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Harum Energy Tbk (HRUM) naik 13,79%
2. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) naik 5,88%
3. PT Indosat Tbk (ISAT) naik 4,66%
Top losers LQ45 hari ini adalah:
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 5,63%
2. PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 2,46%
3. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun 1,80%
IHSG berhasil rebound setelah dibuka di zona hijau pada perdagangan sesi I Senin kemarin, tetapi menunjukkan volatilitas yang tinggi. Investor tengah menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan Nota Keuangan di Indonesia.
IHSG dibuka menguat tipis 0,05% ke level 7.260,54. Namun, sepuluh menit setelah pembukaan, IHSG berbalik turun 0,1% ke 7.250,09, meski tetap berada di level psikologis 7.200.
Pada pekan ini, perhatian investor global tertuju pada data inflasi AS untuk Juli 2024, yang akan dirilis Rabu mendatang. Konsensus pasar dalam Trading Economics memperkirakan inflasi tahunan AS akan turun menjadi 2,9% year-on-year (yoy) dari sebelumnya 3% yoy. Sementara itu, inflasi bulanan AS diperkirakan naik 0,2%, setelah sebelumnya deflasi 0,1%. Inflasi inti AS diperkirakan turun menjadi 3,2% yoy dari bulan sebelumnya 3,3% yoy.
Dari dalam negeri, data neraca perdagangan Juli 2024 juga akan dirilis pada pekan ini, tepatnya Kamis mendatang. Konsensus pasar memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akan surplus sebesar US$ 1,4 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus Juni 2024 yang sebesar US$ 2,39 miliar. Surplus ini dipengaruhi oleh penurunan impor barang modal dan penolong, sementara ekspor didorong oleh industri pengolahan.
Selain itu, agenda tahunan penting lainnya adalah Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang akan disertai dengan pidato kenegaraan dan pembacaan Nota Keuangan pada Jumat mendatang. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari dan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah Atas Rancangan Undang-undang (RUU) Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 serta Nota Keuangan pada siang harinya.
Dalam Pidato Kenegaraan, Presiden Jokowi diperkirakan akan menyampaikan capaian pemerintahannya selama 10 tahun terakhir dalam bidang politik, hukum, keamanan, dan ekonomi. Sedangkan dalam Pidato Pengantar RAPBN 2025, Presiden Jokowi akan memaparkan target makro ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak dan gas, serta harga minyak mentah Indonesia (ICP) untuk tahun 2025.
Hal ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dan pengusaha sebagai arah pembangunan ekonomi Indonesia ke depan.













