KabarMakassar.com — Lonjakan harga Minyakita menjadi sorotan nasional usai Kemendagri menyebut 440 dari 493 kabupaten/kota menjual di atas HET.
Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengusut penyebab kenaikan harga Minyakita yang dinilai tak terkendali.
Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah, Senin (23/06), Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir menyebutkan bahwa harga minyak goreng kemasan sederhana itu kini melampaui harga eceran tertinggi (HET) di sekitar 90 persen wilayah Indonesia.
“Dari data yang kita punya, dari 493 kabupaten/kota, 440 di antaranya masih menjual Minyakita di atas HET. Bahkan di Jakarta juga tinggi. Ini yang ingin kami tanyakan, apa masalah utamanya dan apa langkah yang dilakukan Kemendag,” tegas Tomsi.
Diketahui, saat ini HET untuk Minyakita yang ditetapkan pemerintah adalah Rp15.700 per liter. Namun, pantauan di sejumlah daerah menunjukkan harga yang jauh lebih tinggi.
Harga Minyakita di Makassar Masih di Atas HET
Pantauan KabarMakassar.com di Pasar Terong, Kota Makassar, menunjukkan harga Minyakita masih berada di kisaran Rp18.000 per liter. Pedagang setempat menyebut harga itu relatif stabil sejak Lebaran meski nyatanya jauh dari harga yang ditentukan pemerintah.
“Jadi ini yang satu liter harganya Rp18.000, dia paling murah dibanding yang lain. Ada juga ini Bimoli tapi dia Rp22.000,” tukasnya pada Selasa (24/06).
Meski harga jauh di atas HET, Muzakkar mengaku tidak bisa menaikkan lebih tinggi karena khawatir pembeli kabur.
Sebagai pedagang yang sudah 6 tahun menjual di pasar tersebut, Muzakkar mengaku mengikuti harga pasar dan menjaga agar tetap kompetitif.
Perbedaan harga juga ditemukan di Pasar Tradisional Antang, Kota Makassar. Di sana, Minyakita dijual pada rentang harga Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.
Salah satu pedagang di Pasar Tradisional Antang, Jamal mengatakan, bahwa harga tersebut terbilang normal di wilayah tersebut.
“Kalau disini pembeli tidak mengeluh ji, terbilang stabil harganya kalau kita disini,” imbuhnya.
Jamal menyatakan, pembeli di lapaknya didominasi oleh mahasiswa. Sehingga mereka lebih memilih membeli Minyakita dibanding merek lainnya.
“Kan beda-beda ya tergantung penjualnya, tapi itu kisaran harganya dari Rp18.000 sampai Rp20.000 saja, tidak bisa lebih tinggi dari itu,” tandasnya.
Pemerintah Diminta Segera Evaluasi
Meskipun Minyakita tetap menjadi pilihan utama konsumen karena lebih murah dibanding minyak goreng premium, tingginya harga di atas HET menimbulkan pertanyaan soal efektivitas distribusi dan pengawasan.
Pemerintah pusat melalui Kemendag didesak segera mengevaluasi penyebab utama lonjakan harga tersebut.
Dengan kondisi ini, upaya pengendalian inflasi daerah menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, terutama dalam menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen.
