kabarbursa.com
kabarbursa.com

Bitcoin Naik-Turun Dipengaruhi Perang, Ekonomi dan Konsumsi

Bitcoin Naik-Turun Dipengaruhi Perang, Ekonomi dan Konsumsi
Ilustrasi bitcoin (Dok: KabarMakassar)

KabarMakassar.com — Imbas dari ketegangan geopolitik, terutamanya meningkatnya konflik Israel-Iran yang berlangsung lebih dari sepekan menjalar luas ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Baik itu langsung maupun tidak langsung di tingkat lokal, regional juga global. Dalam hal investasi dan ekonomi sendiri, bitcoin turut menjadi salah satu yang terdampak.

Berdasarkan Bank Indonesia, mata uang kripto atau cryptocurrency seperti bitcoin bukanlah alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Alat pembayaran harus menggunakan rupiah sebagai mata uang di Indonesia baik itu berbentuk koin, uang kertas maupun uang digital.

Maka di Indonesia, bitcoin bukan diakui sebagai mata uang atau alat transaksi melainkan sebagai aset kripto yang dapat diperdagangkan.

Pengamat Ekonomi, Keuangan dan Perbankan, Sutardjo Tui menyebut jika bitcoin hanya menjadi nilai tukar uang.

“Sama kayak dolar, dengan yen, kalau disana perang berarti permintaan menjadi berkurang dan harganya menjadi tinggi, transaksinya yang menjadi tinggi,” ujarnya pada Senin (23/06).

Hal tersebut, kata Sutardjo tidak jauh berbeda dengan di Indonesia apabila terdapat perang dengan negara tetangga.

“Itulah yang menjadi harganya berkurang gitu. Bitcoin itu sama dengan QRIS,” paparnya.

Sutardjo menilai, setiap saat bitcoin, QRIS sampai dengan dolar memiliki risiko tersendiri. Bukan hanya karena terjadi kondisi perang.

“Jangankan masa perang, dalam saat aman pun punya resiko turun naik tergantung pada pertumbuhan ekonomi, tergantung daya beli masyarakat,” imbuhnya.

“Untuk mereka melakukan investasi di bitcoin atau di investasi yang lain itu kan ada pendapatan, kurang konsumsi sisanya tabungan. Tabungan itu yang boleh dipakai untuk bitcoin, untuk investasi-investasi lain,” tambahnya.

Ia menekankan jika bitcoin hanya menjadi alat tukar seperti QRIS dan visa. Dimana dapat digunakan untuk transaksi jual beli antar negara yang disebut dengan international trade.

Lebih lanjut ia menyatakan jika harga bitcoin setiap harinya mengalami perubahan. Untuk perhitungannya sendiri, Sutardjo menyebut terdapat teori menghitung berdasarkan pada metode technical atau metode fundamental.

“Itu yang mempengaruhi harga saham, rupiah, dolar. Kan dua, ada pasar modal ada pasar uang. Pasar uang itu bitcoin, dolar, yen itu bukti transaksi jual beli untuk jangka pendek. Ada pasar modal untuk saham,” pungkasnya.

Diketahui, bitcoin mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu 5,26 persen dalam sepekan terakhir.

Saat ini, harga bitcoin tercatat berada di kisaran USD 101.257, dimana setara dengan sekitar Rp1,67 miliar, mengacu pada kurs rupiah terhadap dolar AS di level Rp16.501.

error: Content is protected !!