Indeks

Usai Dikritik Dewan, PDAM Buka Suara Penyebab Air Tak Mengalir di Utara Makassar

Usai Dikritik Dewan, PDAM Buka Suara Penyebab Air Tak Mengalir di Utara Makassar
Plt Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air (DKA) PDAM, Wahidin (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Polemik krisis air bersih di wilayah utara Kota Makassar kembali terus menjadi perhatian.

Teranyer Anggota DPRD Makassar, Rahmat Taqwa Quraisy, menilai persoalan kekeringan yang terjadi merupakan masalah berulang yang belum tertangani secara optimal.

“Iya, tentunya kekeringan ini menjadi kendala dari tahun ke tahun,” ujar Rahmat, Rabu (15/04) lalu.

Merespon kritik tersebut, pihak PDAM Makassar angkat bicara. Plt Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air (DKA) PDAM, Wahidin, menegaskan bahwa persoalan air di wilayah utara tidak sesederhana yang dipersepsikan, melainkan dipengaruhi oleh faktor teknis hingga keterbatasan sumber air baku.

Menurutnya, sistem distribusi air di wilayah utara masih mengandalkan metode gravitasi dari instalasi di Panaikang. Dengan elevasi sumber air sekitar 13 meter, tekanan yang dihasilkan hanya berkisar 1,3 bar.

“Berbeda dengan wilayah timur yang menggunakan pompa, tekanannya bisa mencapai 4,5 sampai 4,7 bar. Jadi memang ada perbedaan signifikan,” jelas Wahidin, Jumat (17/04).

Ia mengungkapkan, wilayah utara yang berada di pesisir menjadi titik akhir distribusi, sehingga tekanan air kerap habis sebelum mencapai pelanggan.

“Karena ini ujung pelayanan, air sering habis di perjalanan sebelum sampai ke warga,” tambahnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya debit air baku dari Bendung Lekopancing yang selama ini menjadi tulang punggung suplai air untuk wilayah utara dan timur Makassar.

Dalam kondisi normal, debit air mencapai sekitar 1.300 liter per detik, dengan alokasi ideal 550 liter per detik ke wilayah utara. Namun dalam dua pekan terakhir, debit tersebut anjlok drastis menjadi sekitar 360 liter per detik.

Wahidin menjelaskan, berkurangnya pasokan air baku juga dipengaruhi pemanfaatan air di sepanjang saluran terbuka dari wilayah Kabupaten Maros.

“Di sepanjang jalur itu, air banyak digunakan warga untuk kolam ikan, sehingga suplai yang masuk ke instalasi pengolahan ikut berkurang,” ungkapnya.

Sebagai langkah darurat, PDAM mengambil alternatif suplai dari Sungai Moncongloe dengan bantuan pompa untuk menambah pasokan sekitar 600 hingga 900 liter per detik, meski biasanya langkah ini dilakukan saat puncak kemarau.

“Biasanya ini kita lakukan Agustus atau September, tapi tahun ini lebih cepat,” katanya.

Selain itu, distribusi air bersih melalui mobil tangki juga telah dimaksimalkan. Saat ini, PDAM mengerahkan 14 armada dengan kapasitas distribusi mencapai 20 hingga 30 rit per hari, bahkan bisa meningkat hingga 100 rit saat kondisi ekstrem seperti El Nino pada 2023 lalu.

Untuk solusi jangka panjang, PDAM mulai mengkaji alternatif sumber air baku baru, termasuk dari Sungai Tallo dan Sungai Jeneberang, guna mengurangi ketergantungan pada Bendung Lekopancing.

Di sisi lain, Wahidin juga menyoroti persoalan jaringan pipa di wilayah utara yang kerap dipersoalkan. Ia menjelaskan bahwa pergantian pipa bukan tanpa alasan, melainkan karena faktor usia dan korosi akibat kadar garam tinggi di wilayah pesisir.

“Pipa galvanis itu ada umur pakainya. Di utara, karena kadar garam tinggi, bagian dalam pipa cepat korosi dan menyempit. Jadi aliran air terhambat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sering memicu perbedaan distribusi di lapangan, di mana sebagian warga tidak mendapatkan air sementara lainnya masih teraliri.

“Kadang di meteran itu banyak karat dan lumpur yang menyumbat, apalagi kalau ada yang pakai pompa hisap, kotoran ikut tersedot,” tukasnya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version