KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar memastikan kesiapan lahan untuk pembangunan Jembatan Barombong, proyek strategis yang akan menghubungkan kawasan pesisir selatan Makassar dengan wilayah penyangga Kabupaten Gowa.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Makassar, Zuhaelsi Zubir, menegaskan bahwa Pemkot telah menyelesaikan tahapan awal berupa pengukuran dan rencana pembebasan lahan dengan panjang sekitar 110 meter dan lebar 23 meter.
“Pak Wali sudah survei kondisi lahan. Dalam hal ini, tugas kita di Pemkot adalah menyiapkan lahannya. Untuk tahap perencanaan dan pekerjaan fisik, itu menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi,” ujar Zuhaelsi usai upacara HUT Kota Makassar di Lapangan Karebosi, Sabtu (09/11).
Menurut Zuhaelsi, pengukuran lahan dilakukan sekitar dua tahun lalu dan saat ini Pemkot masih menunggu hasil koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Ia menyebut, jika ada perubahan desain atau spesifikasi, Pemkot siap menyesuaikan dengan keputusan dari provinsi sebagai penanggung jawab utama proyek tersebut.
“Yang kami ukur kemarin itu sekitar 110 meter kali 23 meter. Itu lahan yang akan dibebaskan, dan itu menjadi kewenangan Pemkot. Namun, kalau ada perubahan dalam desain, kita menunggu koordinasi dari pihak provinsi,” jelasnya.
Pembangunan Jembatan Barombong sendiri diproyeksikan akan menggunakan konsep jembatan kembar, di mana struktur baru akan dibangun di sisi jembatan lama tanpa perlu pembongkaran.
Langkah ini dilakukan untuk memperlancar arus transportasi dan memperkuat akses kawasan Barombong sebagai bagian dari pengembangan wilayah selatan Makassar.
“Jembatannya kembar, jadi di samping jembatan yang ada sekarang akan dibuat satu lagi. Tidak dibongkar, hanya ditambah satu di sisi lainnya,” ungkap Zuhaelsi.
Ia menjelaskan, desain awal jembatan sebenarnya telah disiapkan oleh Pemkot Makassar dan telah diserahkan ke Pemerintah Provinsi. Namun, belakangan diketahui desain tersebut mengalami proses re-desain di tingkat provinsi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan teknis terbaru.
“Kita sudah ada desain, tapi setelah diserahkan, mereka melakukan re-desain. Kita belum tahu seperti apa hasil akhirnya, masih menunggu penjelasan resmi dari provinsi,” tambahnya.
Terkait besaran anggaran pembangunan, Zuhaelsi mengaku belum menerima informasi rinci dari provinsi. Namun, ia memastikan bahwa pihaknya siap mendukung seluruh tahapan administratif dan teknis yang menjadi bagian dari kewenangan pemerintah kota.
“Untuk anggarannya, kami belum mendapat bocoran. Tapi kami siap di bagian pembebasan lahan dan dukungan teknis lainnya,” ujarnya.
Proyek Jembatan Barombong menjadi salah satu prioritas infrastruktur konektivitas yang diharapkan dapat memperkuat akses antarwilayah serta mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan Makassar. Dengan pembangunan jembatan kembar ini, Pemkot optimistis arus kendaraan menuju kawasan Barombong yang dikenal sebagai kawasan wisata pesisir dan perumahan baru akan semakin lancar dan tertata.
Zuhaelsi menegaskan, koordinasi antara Pemkot Makassar dan Pemprov Sulsel akan terus dilakukan hingga seluruh aspek perencanaan, desain, dan pembebasan lahan rampung.
“Intinya, Pemkot siap. Begitu desain dan tahap pelaksanaan dari provinsi final, kita langsung tindak lanjuti pembebasan lahannya,” tutupnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin bergerak cepat mengurai persoalan kemacetan di kawasan Jembatan Barombong, Jalan Metro Tanjung Bunga.
Pemkot Makassar menyiapkan langkah nyata dengan melakukan pembangunan jembatan baru atau jembatan kembar Barombong yang diharapkan mampu menambah kapasitas arus lalu lintas dan memperlancar konektivitas antarwilayah di bagian selatan Makassar.
Hal itu diungkapkan Wali Kota Munafri Arifuddin, saat meninjau langsung lokasi jembatan pada Selasa (04/11).
Kunjungan ini dilakukan bersama Sekda Kota Makassar, Camat Tamalate, Kepala Dinas Pertanahan, serta Tim Ahli Pemkot Hudli Huduri.
Appi nama karibnya mengatakan, jembatan Barombong saat ini memiliki panjang sekitar 350 meter dan hanya memiliki dua jalur sempit yang dilalui ribuan kendaraan setiap hari, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.
Rencana pembangunan jembatan baru atau ‘jembatan kembar’ di sisi kanan arah Kelurahan Tanjung Merdeka diharapkan menjadi solusi permanen untuk mengurai kepadatan arus kendaraan dari dan menuju Takalar.
“Kalau rencana ini terealisasi, kapasitas jalan akan jauh lebih besar dari kondisi saat ini. Ini akan memperlancar mobilitas warga yang bekerja, berdagang, maupun beraktivitas antarwilayah,” kata Appi.













