KabarMakassar.com — Kinerja ekspor Sulawesi Selatan mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan di Sulsel pada periode Januari–Agustus 2025 tercatat sebesar US$1.069,75 juta, turun 20,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Penurunan ini juga tercermin dalam kinerja bulanan. Pada Agustus 2025, nilai ekspor Sulsel mencapai US$141,77 juta, atau turun 27,25 persen dibandingkan nilai ekspor pada Agustus 2024.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan, Aryanto mengungkapkan, dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor terbesar sepanjang Januari–Agustus 2025, komoditas garam, belerang, dan kapur.
“Komoditas ini mencatat peningkatan tertinggi dengan nilai US$16,15 juta. Naik 60,31 persen dibanding tahun sebelumnya,” jelas Aryanto, dalam rilis resminya.
Sebaliknya, penurunan terdalam terjadi pada komoditas besi dan baja yang anjlok sebesar US$97,68 juta atau 30,93 persen.
Secara keseluruhan, tiga negara masih mendominasi pasar ekspor Sulsel. Jepang menjadi negara tujuan terbesar dengan nilai ekspor US$610,51 juta, diikuti oleh Tiongkok sebesar US$388,19 juta, dan Taiwan senilai US$25,00 juta.
“Ketiga negara ini menyumbang 95,70 persen dari total ekspor Sulawesi Selatan pada periode Januari–Agustus 2025,” lanjutya.
Jika dilihat menurut komoditas, nikel menjadi produk unggulan dengan nilai ekspor US$80,46 juta atau 56,76 persen dari total ekspor Sulsel pada Agustus 2025.
Komoditas lainnya yang berkontribusi besar adalah besi dan baja senilai US$20,63 juta (14,55 persen), biji-bijian berminyak senilai US$11,97 juta (8,44 persen), kakao sebesar US$9,93 juta (7,00 persen), serta ikan dan udang senilai US$5,22 juta (3,68 persen).
Jika dibandingkan dengan Juli 2025, nilai ekspor beberapa komoditas utama mengalami penurunan. Ekspor nikel turun 3,86 persen, besi dan baja turun 6,32 persen, dan biji-bijian berminyak turun 9,46 persen.
Namun, kakao meningkat 7,94 persen, dan ikan serta udang naik tajam 23,26 persen, menunjukkan permintaan yang mulai pulih dari sektor kelautan.
“Secara tahunan, penurunan nilai ekspor Sulsel sebesar US$278,13 juta terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor komoditas logam, khususnya nikel yang turun US$50,50 juta (7,93 persen) dan besi serta baja yang turun US$97,68 juta (30,93 persen),” jelas Aryanto.
Berdasarkan negara tujuan ekspor pada Agustus 2025, Jepang tetap menjadi mitra dagang utama dengan nilai US$85,58 juta (60,37 persen), disusul Tiongkok US$49,03 juta (34,58 persen), Taiwan US$1,89 juta (1,33 persen), Vietnam US$1,77 juta (1,25 persen), dan Timor Leste US$1,57 juta (1,10 persen).
“Jika dibandingkan dengan Juli 2025, ekspor ke Jepang turun 1,83 persen, ke Tiongkok turun 1,81 persen, sementara Vietnam mengalami peningkatan 34,82 persen,” ungkapnya.
Dari sisi pelabuhan muat, aktivitas ekspor terbesar dilakukan melalui Pelabuhan Malili dengan nilai US$80,46 juta (56,76 persen) dari total ekspor Sulawesi Selatan pada Agustus 2025. Posisi kedua ditempati oleh Pelabuhan Makassar dengan nilai US$56,57 juta (39,90 persen).
“Dibandingkan Juli 2025, ekspor melalui Pelabuhan Malili turun 3,86 persen, sedangkan melalui Pelabuhan Makassar turun 1,30 persen,” pungkas Aryanto.
