KabarMakassar.com — Suhu udara di Kota Makassar berpotensi menembus 36 derajat Celsius selama periode kekeringan.
Kondisi panas terutama perlu diwaspadai masyarakat pada siang hingga sore hari.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, mengatakan peningkatan temperatur dapat terjadi pada rentang pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.
“Di masa-masa kekeringan ini, seperti pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00, matahari atau suhu temperatur itu naik. Bisa mencapai 35 sampai 36 derajat Celsius,” kata Nasrol, Selasa (14/7).
BMKG pun meminta warga lebih berhati-hati menghadapi suhu panas. Selain menjaga kondisi tubuh agar tidak mengalami dehidrasi, masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air.
Penggunaan air juga diminta lebih bijak menyusul potensi kekeringan yang masih akan berlangsung cukup panjang.
“Menjaga dehidrasi tubuh dengan lebih banyak minum air, kemudian juga hemat pemakaian air,” ujarnya.
Ancaman lain yang menjadi perhatian adalah kebakaran permukiman. Nasrol mengingatkan warga memeriksa kondisi rumah, termasuk atap dan instalasi jaringan listrik untuk menghindari korsleting saat cuaca panas.
“Harus berhati-hati menjaga lingkungan rumah, seperti atap rumah, kemudian kondisi jaringan listrik agar tidak korslet,” ungkapnya.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah sembarangan. Aktivitas tersebut dinilai berisiko memicu kebakaran, khususnya ketika kondisi lingkungan semakin kering.
“Jangan membakar sampah sembarangan karena akan memicu kebakaran permukiman,” tegas Nasrol.
Di sisi lain, BMKG memastikan Makassar saat ini belum memasuki puncak periode kekeringan. Kondisi terberat diprediksi baru terjadi pada September 2026.
“Kalau sekarang kita belum begitu memasuki puncaknya. Puncak kekeringan nanti itu ada di September, tapi kita ini menuju ke sana,” jelasnya.
Nasrol menyebut periode kekeringan kali ini berpotensi berlangsung panjang. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah perkembangan El Nino yang disebut telah berada pada kategori moderat dengan indeks mencapai 1,5.
“Jadi agak panjang memang, karena indeks El Nino saat ini sudah mencapai moderat atau 1,5. Sehingga kita perlu antisipasi berbagai rencana operasi,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengambil peran dalam penyampaian peringatan dini atau early warning. Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan langkah penanganan awal atau early action.
“Dari BMKG kami menetapkan early warning-nya, sedangkan dari BPBD early action-nya,” ujar Nasrol.
Koordinasi juga dilakukan bersama sejumlah instansi terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai dan Dinas Kesehatan. Antisipasi diarahkan pada kemungkinan defisit air hingga gangguan kesehatan selama kekeringan.
“Memang saat ini belum puncak, kita masih menuju ke puncaknya nanti di September. Kami bekerja sama dan berkoordinasi dengan semua stakeholder,” tuturnya.
Gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) turut menjadi perhatian selama periode kekeringan. Nasrol menilai mitigasi sejak dini diperlukan untuk menekan dampak cuaca kering terhadap masyarakat.
“Pemkot Makassar sudah melakukan mitigasi mulai sejak awal agar masyarakat lebih aman dan nyaman menghadapi kekeringan ini,” tukasnya.
