kabarbursa.com
kabarbursa.com

BPBD Makassar Catat 50.342 Jiwa Terdampak Kekeringan, Biringkanaya Terparah

BPBD Makassar Catat 50.342 Jiwa Terdampak Kekeringan, Biringkanaya Terparah
Kepala BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli. Dok. Nursinta

KabarMakassar.com — Dampak kekeringan di Kota Makassar terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat jumlah warga terdampak kini mencapai 50.342 jiwa, dengan Kecamatan Biringkanaya menjadi wilayah paling parah berdasarkan jumlah titik kekeringan dan warga yang terdampak.

Data terbaru hasil kaji cepat BPBD Kota Makassar hingga Kamis (9/7) pukul 17.00 Wita menunjukkan kekeringan telah menyebar di enam kecamatan dan 27 kelurahan.

Sebanyak 173 titik kekeringan telah teridentifikasi.

Kepala BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli, mengatakan pemetaan wilayah terdampak terus diperbarui mengikuti perkembangan kondisi dan laporan di lapangan. Hasil pendataan terbaru menunjukkan cakupan kekeringan bertambah dibandingkan sehari sebelumnya.

“Data hasil kaji cepat terus kami perbarui berdasarkan kondisi di lapangan. Saat ini kekeringan telah berdampak di enam kecamatan dan kebutuhan mendesak masyarakat tetap air bersih serta tandon air,” kata Fadli dalam keterangannya, Sabtu (11/07).

Secara keseluruhan, kekeringan kini berdampak terhadap 12.717 rumah tinggal dan 14.564 kepala keluarga (KK). Dari 50.342 warga terdampak, sebanyak 24.192 jiwa merupakan laki-laki dan 26.150 jiwa perempuan.

Biringkanaya tercatat sebagai kecamatan dengan titik kekeringan terbanyak. Sebanyak 58 titik kekeringan ditemukan di empat kelurahan di wilayah tersebut.

Dampaknya menjangkau 4.084 rumah tinggal dan 4.247 kepala keluarga. Total warga terdampak di Biringkanaya mencapai 14.787 jiwa, tertinggi dibandingkan lima kecamatan lainnya.

“Biringkanaya masih menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling luas. Ada 58 titik kekeringan dan hampir 15 ribu warga yang terdampak berdasarkan hasil kaji cepat,” ujarnya.

Selain Biringkanaya, kondisi kekeringan cukup luas terjadi di Kecamatan Tallo. BPBD mencatat 36 titik kekeringan tersebar pada empat kelurahan dengan jumlah warga terdampak mencapai 13.762 jiwa.

Di Tallo, sebanyak 2.862 rumah tinggal dan 3.884 kepala keluarga masuk dalam pendataan wilayah terdampak. Jumlah titik kekeringan di kecamatan tersebut juga mengalami penambahan dibandingkan pendataan sebelumnya.
Kecamatan Tamalanrea berada di urutan berikutnya dengan 9.947 jiwa terdampak. Kekeringan di wilayah ini telah meluas ke enam kelurahan dengan total 27 titik.

Sebanyak 2.922 rumah tinggal dan 3.018 kepala keluarga di Tamalanrea tercatat merasakan dampak berkurangnya ketersediaan air.
Sementara di Kecamatan Manggala, BPBD menemukan 29 titik kekeringan yang tersebar di empat kelurahan. Sebanyak 1.959 rumah tinggal dan 2.263 kepala keluarga terdampak, dengan total warga mencapai 7.610 jiwa.

Kekeringan juga melanda Kecamatan Ujung Tanah. Terdapat 17 titik kekeringan pada lima kelurahan yang berdampak terhadap 645 rumah tinggal dan 842 kepala keluarga. Jumlah warga terdampak mencapai 2.921 jiwa.

Adapun Kecamatan Panakkukang mencatat enam titik kekeringan di empat kelurahan. Sebanyak 245 rumah tinggal dan 310 kepala keluarga terdampak, atau setara dengan 1.324 jiwa.

Meluasnya dampak kekeringan terlihat jika dibandingkan dengan data sehari sebelumnya. Hingga 8 Juli 2026, BPBD masih mencatat 37.189 jiwa terdampak yang tersebar di empat kecamatan.

Dalam pembaruan data hingga 9 Juli, jumlah tersebut naik menjadi 50.342 jiwa. Artinya, terdapat penambahan 13.153 warga terdampak berdasarkan hasil pemutakhiran kaji cepat BPBD.
Cakupan wilayah juga bertambah dari sebelumnya empat kecamatan menjadi enam kecamatan. Panakkukang dan Manggala kini masuk dalam pemetaan daerah terdampak kekeringan.

Jumlah titik yang harus dijangkau dalam distribusi air juga meningkat. Sebelumnya, BPBD mencatat 125 titik distribusi air bersih. Dalam data terbaru, rencana distribusi telah mencakup 173 titik sesuai hasil pemetaan kekeringan.

Fadli mengatakan distribusi air bersih menjadi prioritas penanganan karena masyarakat di wilayah terdampak masih mengandalkan sejumlah sumber air, mulai dari air tanah, jaringan PDAM hingga PAMSIMAS. Namun, keterbatasan ketersediaan air di sejumlah lokasi membuat warga membutuhkan suplai tambahan.

“Yang paling mendesak adalah air bersih dan tandon air. Karena itu, penanganan dan distribusi diarahkan berdasarkan titik-titik yang sudah dipetakan melalui kaji cepat,” jelas Fadli.

Untuk mendukung penanganan kekeringan, BPBD Kota Makassar menyiagakan 180 personel. Operasi di lapangan turut didukung empat unit mobil pikap, 57 unit tandon air dan empat unit pompa air.

Armada dan sarana tersebut digunakan untuk menunjang distribusi air serta penanganan kebutuhan masyarakat pada wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.

“Kami terus melakukan pemetaan dan penanganan berdasarkan hasil kaji cepat. Perkembangan di lapangan menjadi dasar untuk menentukan prioritas distribusi air bersih kepada warga,” katanya.

BPBD mengimbau masyarakat segera melaporkan kondisi kekeringan dan kebutuhan air bersih di wilayah masing-masing. Laporan diperlukan agar petugas dapat melakukan verifikasi dan memasukkan lokasi terdampak dalam pemetaan penanganan.

Masyarakat dapat menghubungi hotline BPBD Kota Makassar di 0815 5112 112 atau menggunakan layanan kedaruratan 112 untuk menyampaikan laporan dan permintaan penanganan.
Dengan terus bertambahnya wilayah dan jumlah warga terdampak, BPBD Kota Makassar akan melanjutkan pemutakhiran kaji cepat sekaligus mengarahkan distribusi air bersih ke 173 titik kekeringan yang telah terpetakan.

error: Content is protected !!