KabarMakassar.com — Fenomena El Niño yang masih bertahan di Samudra Pasifik memperkuat potensi berkurangnya curah hujan di Indonesia pada Juli 2026.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan semakin meluasnya musim kemarau dan masuknya sejumlah wilayah ke periode puncak kemarau.
Indikator atmosfer menunjukkan indeks Niño 3.4 berada pada level +1,25, sementara Southern Oscillation Index (SOI) tercatat -24,7. Kondisi ini mengindikasikan pengaruh El Niño masih berlangsung dan berpotensi menekan pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dampaknya mulai terlihat dari luas wilayah yang telah memasuki musim kemarau. Hingga awal Juli 2026, sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau 48,9 persen wilayah Indonesia tercatat telah berada dalam periode kemarau.
Jumlah tersebut meningkat 11,3 persen dibandingkan dasarian sebelumnya. Dengan demikian, hampir separuh wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau, bahkan sebagian mulai berada pada fase puncaknya.
Potensi hujan diperkirakan semakin terbatas pada Dasarian II Juli 2026. Sebanyak 92,64 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah. Hanya 7,32 persen wilayah yang diprediksi menerima curah hujan kategori menengah dan 0,04 persen berada pada kategori tinggi.
Curah hujan rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian diprakirakan mendominasi sebagian besar Sumatra dan Jawa. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi.
Wilayah Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian Papua turut masuk dalam cakupan daerah dengan potensi curah hujan rendah. Situasi tersebut menunjukkan peluang terjadinya hujan di banyak daerah relatif terbatas sepanjang pertengahan Juli.
Kondisi atmosfer kering juga terpantau melalui analisis citra satelit. Massa udara kering terdeteksi bergerak dari selatan Indonesia, terutama di sekitar Samudra Hindia selatan Jawa hingga kawasan Nusa Tenggara.
Keberadaan udara kering itu berpotensi menghambat pertumbuhan awan hujan. Dampaknya terutama diperkirakan terasa di wilayah selatan Indonesia, mencakup Jawa, Bali, NTB dan NTT.
Meluasnya kondisi kering turut tercermin dari pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH). Sebanyak 329 titik pengamatan atau sekitar 6,77 persen dari seluruh titik tercatat mengalami HTH kategori sangat panjang.
Wilayah tersebut tercatat tidak mengalami hujan selama 31 hingga 60 hari. Jumlah titik dengan periode tanpa hujan sangat panjang juga mengalami peningkatan dibandingkan pemantauan sebelumnya.
Dalam sepekan ke depan, cuaca Indonesia secara umum diprakirakan masih didominasi berkurangnya potensi curah hujan. Situasi ini sejalan dengan meluasnya musim kemarau serta pengaruh El Niño terhadap pola hujan di Indonesia.
Meski demikian, kondisi kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia sepenuhnya bebas dari potensi hujan. Dinamika atmosfer regional masih dapat memicu pertumbuhan awan dan meningkatkan curah hujan secara lokal di sejumlah daerah.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berinteraksi dengan Gelombang Rossby Ekuator diprakirakan masih aktif. Fenomena tersebut terpantau di sekitar Samudra Hindia timur laut hingga utara Aceh, Laut Andaman, Laut Cina Selatan dan Laut Sulu.
Aktivitas atmosfer serupa juga diperkirakan terjadi di Laut Sulawesi, Filipina bagian selatan, serta Samudra Pasifik di utara Halmahera hingga Papua. Interaksi fenomena tersebut dapat mendukung pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.
Selain itu, Siklon Tropis Bavi masih menjadi salah satu sistem atmosfer yang dipantau. Siklon kategori 4 tersebut memiliki tekanan udara minimum 925 hPa dengan kecepatan angin maksimum mencapai 100 knot.
Posisi Siklon Tropis Bavi berada di Laut Filipina, sebelah utara Papua Barat, dan bergerak ke arah barat laut menjauhi Indonesia. Kendati berada cukup jauh, sistem siklon itu masih dapat memberikan pengaruh tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia bagian utara.
Pengaruh tersebut berupa pembentukan daerah konvergensi dan konfluensi di Laut Filipina utara Papua Barat, Laut Sulu dan Laut Halmahera bagian utara. Kondisi serupa dapat terbentuk di sekitar sistem siklon.
Siklon Bavi juga mendukung terbentuknya low level jet di sepanjang Samudra Pasifik bagian utara hingga timur Filipina. Sistem tersebut dapat memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah sekitarnya.
Dampak tidak langsung Siklon Bavi sebelumnya turut berkaitan dengan dinamika atmosfer yang mendukung hujan lebat di Kalimantan Utara pada 6 hingga 7 Juni 2026. Curah hujan di wilayah tersebut sempat tercatat mencapai 84 milimeter per hari.
Karena itu, meskipun potensi curah hujan secara nasional cenderung semakin rendah akibat meluasnya kemarau dan bertahannya El Niño, peluang hujan dengan intensitas tertentu masih dapat muncul akibat pengaruh fenomena atmosfer regional.
Pada periode 14 hingga 16 Juli 2026, cuaca di Indonesia diprakirakan secara umum didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.
Peningkatan hujan dengan intensitas sedang tetap perlu diwaspadai di Papua Barat Daya, Papua Barat dan Papua. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika cuaca lokal dan regional masih dapat memicu hujan di tengah dominasi musim kemarau.
Meluasnya wilayah dengan curah hujan rendah menjadi kondisi yang perlu diperhatikan, terutama karena semakin banyak daerah mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan.
Pengaruh El Niño, massa udara kering dari selatan, dan perkembangan musim kemarau berpotensi semakin membatasi peluang hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan Juli 2026.













