KabarSelatan.id — Jelang Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Sekolah Tinggi Agama Islam-Yayasan Pendidikan Nasional (STAI-YAPNAS) lakukan dialog dengan Pemerintah Kabupaten Jeneponto. Kamis, (24/11).
Diskusi ini pun mengusung sebuah tema " Titik balik kebangkitan Perempuan dan Tantangan Peluang Pembangunan Kesetaraan Gender ditengah Gempuran Paternalisme Global".
Moment yang kerap dilaksanakan setiap 25 November hingga 10 Desember ini juga menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten.
Seperti, Bupati Jeneponto bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Dr. Farida Mappatunru.
Forum ini pun langsung memantik Iksan Iskandar agar berkomitmen dan berperang aktif memerangi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Iksan mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan para mahasiswa lantaran mereka membuka ruang dialog dengan pendekatan akademis – ilmiah menjadi wadah yang tepat untuk bertukar pikiran dalam sebuah persoalan.
"Alhamdulillah terimakasih anak-anakku Mapancas telah menginisiasi kegiatan dialog ini," Kata Iksan didepan para Mahasiswa Pancasila.
Lantas, ia mengaku sejak memimpin Butta Turatea, program perlindungan terhadap perempuan dan anak sudah dimasukan ke klasifikasi strategis.
Hal tersebut disebabkan lantaran ia ingin Jeneponto menjadi daerah yang mampu melindungi empat kelompok rentan.
"Lansia, penyandang disabilitas, perempuan, dan anak," cetusnya.
Sehingga Pemerintah Jeneponto sangat serius agar memperhatikan dan berupaya terus melakukan perlindungan secara konsisten.
"Sejak awal komitmen kami memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada perempuan untuk berkontribusi aktif dalam pemerintahan," tambahnya.
Termasuk beberapa Dinas yang dipimpin oleh seorang perempuan," tukasnya.














