KabarMakassar.com – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/09). Pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan sentimen eksternal.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.700 per dolar AS atau terdepresiasi 0,11 persen. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif selama empat hari perdagangan berturut-turut.
Pada penutupan Selasa (15/09), mata uang rupiah terkoreksi 0,26 persen ke level Rp17.685 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,12 persen ke posisi 99,730 pada pukul 10.00 WITA.
Penguatan dolar AS juga ditopang oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi greenback di mata investor.
Fokus pasar saat ini tertuju pada hasil rapat kebijakan The Fed yang berlangsung pada 15 sampai dengan 16 September 2026. Keputusan suku bunga acuan tersebut akan diumumkan pada Kamis dini hari.
Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dengan probabilitas mencapai 90 persen. Langkah ini berpotensi menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari dua tahun.
Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menilai dorongan terhadap dolar akan cenderung moderat. Hal ini karena ekspektasi kenaikan suku bunga sudah diperhitungkan oleh pasar.
Selain keputusan suku bunga, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah kebijakan berikutnya turut menjadi perhatian. Sinyal ketat maupun ramah dari The Fed akan menentukan pergerakan rupiah selanjutnya.













