KabarMakassar.com — Rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan, Rabu (5/8).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengalami apresiasi sebanyak 0,32 persen ke level Rp17.957 per dolar AS.
Mata uang Garuda mencoba bangkit jelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal II-2026.
Terjadinya penguatan pada rupiah usai ditutup melemah sebanyak 0,19 persen ke posisi Rp18.015 per dolar AS pada perdagangan 4 Agustus 2026.
Bahkan, rupiah sempat berada dalam posisi terlemah hariannya di Rp18.045 per dolar AS.
Saat ini, pergerakan rupiah terjadi di tengah penantian pasar akan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal II-2026 oleh BPS.
Tercatat, pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebanyak 5,61 persen secara tahunan, namun terdapat kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan paling tinggi dicatatkan oleh Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang tembus 21,81 persen secara tahunan.
Jika hasil pengumuman BPS sesuai dengan konsensus pasar maka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 bakal melambat dibandingkan kuartal lalu.
Akan tetapi, angkanya juga masih sama dengan pertumbuhan kuartal II-2025 yang menyentuh 5,12 persen secara tahunan.
Tak hanya data ekonomi domestik, namun rupiah juga dipengaruhi oleh perkembangan hubungan AS dan Iran.
Terutamanya atas harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran yang kembali meningkat serta mendorong minat pelaku pasar atas aset berisiko.
Dengan harapan meredanya perang maka membuat harga minyak mentah AS merosot sebanyak 5,7 persen pada perdagangan lalu.
Penurunan harga minyak memiliki potensi untuk meredakan tekanan inflasi global juga mengurangi beban impor energi Indonesia.













