KabarMakassar.com — Tawuran antarkelompok yang dipicu sengketa lahan kembali pecah di Jalan Prof Abdurrahman Basalamah atau eks Racing Center, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (26/7/2026) sore.
Bentrokan sempat meluas ke Jalan Abdullah Daeng Sirua, mulai dari kawasan Jembatan Abdesir hingga lampu merah pertigaan Jalan Adhyaksa Baru. Kedua kelompok disebut saling menyerang menggunakan anak panah busur dan sempat menutup akses jalan.
Aparat gabungan Polsek Panakkukang dan Polrestabes Makassar akhirnya berhasil membubarkan massa. Polisi masih bersiaga di sekitar lokasi untuk mencegah bentrokan kembali terjadi.
Kanit Reskrim Polsek Panakkukang, Iptu Uji Mughni, mengatakan situasi telah berangsur kondusif. Namun, potensi keributan masih ada karena salah satu pihak kembali memperbaiki pagar seng di lahan yang disengketakan.
“Saat ini, alhamdulillah, sudah terkendali. Cuma persoalannya, ada satu pihak yang memperbaiki pagar seng. Itu bisa menjadi pemicu. Sekarang massanya masih menahan diri,” ujar Uji.
Ia mengungkapkan, personel kepolisian sempat ditarik mundur saat bentrokan berlangsung karena jumlah aparat jauh lebih sedikit dibandingkan massa yang mencapai ratusan orang.
Saat itu, aparat yang berada di lokasi hanya berjumlah sekitar 10 personel, sedangkan kedua kelompok telah saling menyerang menggunakan busur.
“Pertama, waktu jumlah personel masih sedikit, kebetulan saya yang pimpin. Saya tarik mundur karena busur sudah berterbangan dan jumlah tidak seimbang. Kami awalnya 10 orang, sedangkan mereka ratusan. Setelah ada bantuan, baru kami maju,” katanya.
Uji mengatakan massa juga sempat menutup akses kendaraan di sekitar Jembatan Abdullah Daeng Sirua saat bentrokan berlangsung.
“Tadi sempat menutup jalan di Jembatan Abdesir,” ujarnya.
Dalam bentrokan tersebut, Uji mengaku melihat seorang warga mengalami luka. Namun, kepolisian belum mengetahui apakah korban telah membuat laporan resmi.
“Kalau yang saya lihat, ada yang terluka. Tapi dia melapor atau tidak, saya belum tahu,” katanya.
Berdasarkan keterangan polisi, bentrokan dipicu perselisihan mengenai penguasaan lahan. Salah satu pihak disebut telah menempati lokasi tersebut, sedangkan pihak lainnya berusaha memasang pagar di area yang sama.
“Masalah lahan. Salah satu pihak sudah menguasai dan tidak mau keluar, sementara pihak lainnya memagar. Itu yang akhirnya memancing keributan,” jelas Uji.
Polisi masih berjaga di sekitar lokasi bentrokan. Namun, personel ditempatkan dengan jarak tertentu dari titik pemasangan pagar agar tidak dianggap berpihak kepada salah satu pihak yang bersengketa.
“Sekarang kami berjaga di lokasi tawuran. Untuk titik sengketa, kami menjaga jarak karena ada perbaikan pagar. Jangan sampai kami dianggap membekingi salah satu pihak,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, polisi masih memantau situasi dan mengantisipasi kemungkinan bentrokan susulan. Belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban maupun pihak yang diamankan dalam peristiwa tersebut.













