KabarMakassar.com — Universitas Muslim Indonesia (UMI) menargetkan percepatan transformasi digital dan penguatan daya saing global sebagai agenda utama pengembangan kampus dalam beberapa tahun ke depan. Transformasi tersebut akan diwujudkan melalui pembangunan ekosistem digital, pengembangan infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga perluasan jejaring internasional.
Arah pengembangan tersebut disampaikan Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Masrurah Mokhtar, pada puncak Milad ke-72 UMI yang mengusung tema “UMI Unggul: Menakar Potensi, Menguatkan Inovasi, dan Mewujudkan Kampus Islami Berkelas Dunia, pada Selasa (23/06/2026)
Menurutnya, tema tersebut merupakan arah strategis pembangunan universitas dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa depan.
“Di balik usia yang matang ini terdapat perjuangan yang panjang, pengabdian yang tulus, serta amanah besar yang harus terus kita jaga. Karena itu Milad ke-72 bukan hanya momentum untuk bersyukur, tetapi juga momentum untuk memperkuat langkah menuju masa depan yang lebih unggul dan lebih berdampak,” ujarnya.
Prof. Masrurah mengatakan UMI tidak hanya ingin mempertahankan reputasinya sebagai perguruan tinggi Islam, tetapi juga memperkuat tata kelola yang profesional, transparan, amanah, dan akuntabel. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki UMI harus dioptimalkan agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Potensi yang besar harus dikelola dengan tata kelola yang profesional, transparan, amanah, dan akuntabel agar manfaatnya semakin besar bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tuturnya.
Salah satu fokus utama yang tengah dijalankan adalah transformasi digital melalui pembangunan UMI Connection Building, yang akan menjadi pusat pengembangan ekosistem digital kampus. Proyek tersebut dikembangkan melalui kerja sama strategis dengan mitra internasional dari Tiongkok dan ditargetkan mendukung implementasi penuh transformasi digital paling lambat pada semester pertama tahun 2028.
“Insya Allah transformasi digital UMI kami targetkan dapat terimplementasi secara penuh paling lambat Semester Pertama Tahun 2028,” ungkap Prof. Masrurah.
Selain digitalisasi, Yayasan Wakaf UMI juga melanjutkan sejumlah proyek pembangunan strategis untuk memperkuat kapasitas pendidikan. Proyek tersebut meliputi penyelesaian Kampus UMI Bantaeng, pembangunan Gedung Olahraga (GOR) berkapasitas 3.000 orang, penyelesaian Gedung Fakultas Kedokteran Gigi tujuh lantai, kelanjutan pembangunan Gedung Kembar Fakultas Kedokteran, renovasi sejumlah fakultas, hingga pembangunan Gedung Fakultas Sastra sebagai pusat pengembangan ilmu humaniora berbasis nilai-nilai Islam.
UMI juga tengah mempersiapkan pembangunan Menara UMI 23 lantai yang terinspirasi dari tanggal berdirinya universitas pada 23 Juni 1954. Menara tersebut dirancang menjadi pusat kegiatan akademik, riset, inovasi, bisnis, serta kolaborasi internasional yang diharapkan menjadi ikon baru kampus.
Dalam bidang pengembangan sumber daya manusia, Yayasan Wakaf UMI menyiapkan Program Penguatan Kepemimpinan bagi seluruh pemegang amanah di berbagai level organisasi. Program tersebut difokuskan untuk membentuk pemimpin yang adaptif terhadap perubahan, profesional, serta mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan kepemimpinan modern.
“Kami menyadari bahwa transformasi digital tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan teknologi dan sistem yang canggih. Transformasi digital yang sesungguhnya harus dimulai dari transformasi manusianya,” ujarnya.
“Kami meyakini bahwa transformasi teknologi hanya akan berhasil jika diiringi transformasi manusia. Karena itu investasi terbesar yang sedang kami siapkan adalah investasi pada karakter, kepemimpinan, dan kaderisasi,” lanjutnya.
Di sektor kesejahteraan, Yayasan Wakaf UMI juga menyerahkan gaji ke-14 kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka. Sebelumnya, yayasan juga telah menyalurkan gaji ke-13 dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR).
“Ini bukan sekadar penghargaan material, tetapi bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas kerja keras seluruh keluarga besar UMI yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan dan kemajuan universitas,” katanya.
Menurut Prof. Masrurah, target menjadi kampus Islam berkelas dunia tidak hanya diukur dari pembangunan fisik maupun capaian pemeringkatan internasional. Yang lebih penting adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi global tanpa meninggalkan identitas keislamannya.
“Yang lebih penting adalah melahirkan lulusan yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislamannya,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Prof. Masrurah mengajak seluruh sivitas akademika mempertahankan semangat wakaf, pengabdian, dan kebersamaan sebagai fondasi pengembangan universitas di masa depan.
“Tidak ada UMI yang unggul tanpa kebersamaan. Tidak ada kampus berkelas dunia tanpa integritas. Tidak ada kemajuan tanpa kerja keras, keikhlasan, dan semangat melayani. Mari kita rawat semangat wakaf dan pengabdian untuk membangun peradaban,” pungkasnya.
![]()












