Kabar Makassar.com – Puluhan pedagang es kelapa yang berjualan di kawasan Benteng Rotterdam menggelar aksi di Kantor DPRD Kota Makassar sejak Rabu (17/6) pagi.
Massa yang mulai berkumpul sekitar pukul 06.00 Wita menyatakan siap bertahan hingga 21 Juni apabila rapat dengar pendapat (RDP) yang mereka tuntut belum juga dilaksanakan.
Hingga pukul 13.48 Wita, peserta aksi masih memadati halaman DPRD. Dua mobil pikap digunakan sebagai panggung orasi, sementara sebagian demonstran memilih beristirahat di atas terpal yang dibentangkan di area aksi. Aparat kepolisian tampak berjaga dan mengawal jalannya unjuk rasa yang berlangsung tertib.
Koordinator lapangan aksi, Yayat, menegaskan pendudukan di kantor DPRD dilakukan sebagai bentuk desakan agar pimpinan dewan segera memfasilitasi dialog sebelum jadwal penertiban pedagang pada 21 Juni.
“Kami mendesak Ketua DPRD memastikan kapan RDP dilaksanakan sebelum tanggal 21. Sampai sekarang belum ada kepastian, padahal kami ingin persoalan ini dibahas bersama pemerintah dan seluruh pihak terkait,” kata Yayat.
Menurutnya, aksi yang berlangsung bukan sekadar unjuk rasa biasa. Pedagang bahkan telah menyiapkan diri untuk bertahan di lokasi selama beberapa hari hingga ada kepastian mengenai pelaksanaan RDP.
“Kami agendanya memang pendudukan sampai tanggal 21. Kalau perlu kami menginap secara tertib untuk mendesak Ketua DPRD segera mengupayakan RDP karena beberapa aksi sebelumnya juga tidak pernah ditindaklanjuti,” ujarnya.
Yayat mengaku hingga kini pihaknya belum pernah bertemu langsung dengan Ketua DPRD Makassar. Berdasarkan informasi yang diterima massa aksi, pimpinan dewan sedang menjalankan kunjungan kerja di luar daerah.
Selain meminta RDP, para pedagang juga menolak rencana relokasi ke Pasar Baru. Mereka menilai proses sosialisasi sebelumnya tidak memberi ruang kepada pedagang untuk menyampaikan pandangan maupun keberatan.
“Pedagang tidak menolak penataan. Kami hanya tidak ingin dipindahkan. Kalau memang harus dirapikan atau ditata secara mandiri, kami siap. Yang penting jangan digusur dari Rotterdam,” tegas Yayat.
Ia juga membantah anggapan bahwa keberadaan pedagang mengganggu pejalan kaki maupun lalu lintas. Menurutnya, ruang bagi pejalan kaki di kawasan tersebut masih memadai dan aktivitas jual beli selama ini berjalan tanpa menimbulkan kemacetan.
“Benteng Rotterdam sudah menjadi salah satu ikon penjual es kelapa di Makassar. Kalau dipindahkan, tentu akan berdampak pada pendapatan pedagang dan menghilangkan identitas yang sudah dikenal masyarakat,” tukasnya.













