KabarMakassar.com — Pagi itu, hamparan kebun bawang di lereng pegunungan Kabupaten Enrekang tampak hijau dan subur. Di balik kesegaran tanaman yang tumbuh berbaris rapi, ada cerita tentang perubahan yang lahir dari hadirnya energi listrik. Bagi para petani, listrik kini bukan sekadar penerang, melainkan penggerak produktivitas, penghemat biaya, sekaligus harapan baru untuk masa depan pertanian yang lebih maju.
Melalui program Electrifying Agriculture (EA), PT PLN (Persero) terus menghadirkan solusi energi yang mendukung modernisasi sektor pertanian. Program ini menjadi salah satu kontribusi nyata PLN dalam mendukung agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada pangan nasional.
Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh Muhajir, petani bawang di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Sebelum menggunakan listrik PLN, aktivitas penyiraman kebunnya sangat bergantung pada pompa berbahan bakar diesel.
“Dulu kami harus mencari BBM setiap hari agar pompa bisa beroperasi. Kalau bahan bakarnya tidak ada, penyiraman pun terhambat,” kenang Muhajir.
Ketergantungan pada bahan bakar membuat biaya operasional lebih mahal. Dalam satu kali musim tanam, Muhajir harus mengeluarkan biaya sekitar Rp35 juta untuk kebutuhan penyiraman di tujuh kebun bawangnya. Kini, setelah memanfaatkan listrik PLN dengan daya terpasang 92.400 Volt Ampere (VA), biaya tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp14 juta per musim tanam, atau lebih hemat hingga 60 persen.
Tak hanya lebih hemat, pasokan listrik yang andal juga memungkinkan penggunaan pompa air listrik yang bekerja lebih stabil serta lampu penerangan penangkal hama yang membantu menjaga kualitas tanaman. Hasilnya, produktivitas kebun bawang meningkat.
“Saya sangat mengapresiasi kemudahan dan penghematan yang diberikan listrik PLN. Sekarang tidak perlu lagi mengangkut solar ke kebun atau khawatir saat BBM langka. Pembelian token listrik bisa dilakukan melalui telepon genggam. Ke depan saya berencana mengonversi sepuluh pompa lainnya menjadi listrik,” ujar Muhajir.
Perubahan positif tersebut juga mendapat perhatian dari Penyuluh Pertanian Lapangan Kelurahan Tanete, Kabupaten Enrekang, Irawaty Zainuddin. Menurutnya, pemanfaatan listrik di sektor pertanian telah membantu petani mengadopsi teknologi yang lebih modern dan efisien.
“Kami melihat langsung dampaknya. Penggunaan pompa listrik dan lampu pengendali hama membuat proses budidaya bawang menjadi lebih efisien dan biaya produksi lebih rendah. Program Electrifying Agriculture menjadi salah satu solusi yang membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil panen,” jelas Irawaty.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Kabupaten Enrekang. Bupati Enrekang, Muh. Yusuf Ritangnga, menilai kehadiran listrik di kawasan pertanian menjadi faktor penting dalam mendorong modernisasi sektor pertanian daerah.
“Kehadiran listrik memberikan akses energi yang lebih andal untuk pengairan dan berbagai aktivitas pertanian lainnya. Program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan hasil panen, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Kami berharap sinergi antara PLN dan masyarakat terus berlanjut,” ungkap Yusuf.
Senada dengan itu, Ketua DPRD Kabupaten Enrekang, Ikrar Eran Batu, menyampaikan DPRD Kab.Enrekang mengapresiasi dan sangat mendukung serta melihat program ini sebagai bentuk sinergi yang baik antara BUMN dan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah melalui sektor pertanian yang berkelanjutan.
“Program Electrifying Agriculture memberikan manfaat nyata bagi petani. Selain meningkatkan efisiensi usaha tani, program ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Ini adalah contoh kolaborasi yang baik antara BUMN dan masyarakat dalam membangun daerah berbasis sektor pertanian,” ujarnya.
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, menegaskan bahwa kehadiran listrik yang andal dan tarif yang kompetitif merupakan bagian dari upaya PLN dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat, termasuk di sektor pertanian.
“Electrifying Agriculture hadir untuk membantu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, hingga perikanan. Ini merupakan bentuk dukungan PLN terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Edyansyah.
Ia menjelaskan bahwa program Electrifying Agriculture dirancang untuk mempercepat transformasi menuju pertanian modern berbasis energi listrik. Pemanfaatan teknologi pertanian yang lebih efisien diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
“Melalui program ini, PLN berupaya menciptakan Creating Shared Value (CSV) yang memberikan manfaat bersama bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian daerah. Ketika petani lebih produktif dan biaya produksi semakin efisien, maka daya saing sektor pertanian juga akan semakin kuat,” tambahnya.
Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat tercatat mencapai 4.280 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 206.312 kiloVolt Ampere (kVA). Angka ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan energi listrik untuk mendukung kegiatan produktif di sektor agrikultur.
Melalui program Electrifying Agriculture, PLN tidak hanya menghadirkan akses energi, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya pertanian yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Dengan sistem irigasi yang lebih stabil dan teknologi pendukung yang semakin mudah diakses, petani memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional.
Bagi PLN, setiap aliran listrik yang menghidupkan pompa air di lahan pertanian bukan sekadar energi yang mengalir. Di dalamnya terdapat harapan para petani, semangat untuk meningkatkan hasil panen, dan cita-cita besar bangsa dalam mewujudkan swasembada pangan.
“Dari kebun-kebun yang kini semakin produktif, listrik menjadi energi yang menggerakkan masa depan. Menghidupkan harapan petani, memperkuat ketahanan pangan, dan menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat,” tutup Edyansyah.














