Oleh: Sri Marlina (Pekerja Sosial dan aktivis perempuan)
KabarMakassar.com — Mari kita telaah hikmah Dari Gurun Mati ke Zamzam Hidup itu adalah Kuliah Tauhid Gratis Seumur Hidup untuk kita perempuan muslim.
Kalau ada gelar “Ibu Tunggal Abad Semua Zaman”, itu milik Siti Hajar. Bukan karena dia janda. Tapi karena dia ditinggal Ibrahim di lembah mati, bawa bayi, tanpa sinyal, tanpa tetangga, tanpa BPJS.Kecuali nyala seorang hamba taat dan keyakinan baja pada TuhanNya.
Logika dunia dengan situasi seperti itu akan berkesimpulan” mati”. Tetapi Logika Siti Hajar adalah ikhtiar dengan berlari. Dan dari larinya itu lahir Mekah, Ka’bah, maka catatlah pelajaran tauhid paling praktis: Ikhtiar dulu, baru tawakal. Bukan tawakal lalu rebahan meratapi.
1. Penajaman: “Ikhtiar Dulu” itu dibuktikan dengan 7x Lari Shafa-Marwah
Kita bayangkan diri kita diposisinya dengan Bayi Ismail kehausan, nangis. Susu habis. Air habis. Matahari menusuk di tengah Padang tandus
Siti Hajar masih menghadirkan 2 pilihan:
1. Tawakal pasif: Duduk pangku Ismail, bilang “Allah yang kasih rezeki”. Lalu mati berdua.
2. Ikhtiar aktif: Taruh Ismail, lari ke bukit Shafa. Tidak ada apa-apa. Turun, lari ke Marwah. Tidak ada apa-apa. Ulang 7x. Kaki lecet. Nafas putus.
Beliau pilih nomor 2 bukan sekali mencoba tapi terus mencoba hingga titik ketiadaan pada dirinya, tenaga habis keringat mengucur kaki babak belur oleh luka nafas ditenggorokan, tepat di lari ke-7nya barulah Lillah dalam ketiadaan apapun kecuali kepasrahan dan Allah hadiahkan air Zamzam meletus dari bawah kaki Ismail.
Kita bisa ambil hikmah tajam Allah tidak suruh malaikat turun bawa air galon. Allah suruh ibunya lari dulu. Karena Allahsedang mengajar kita: Rezeki meletus di bawah kaki orang yang berlari, bukan di pangkuan orang yang rebahan.
Ini tamparan ke kita semua. Pendamping PKH, KPM, mahasiswa, pencari kerja dan yang sedang dalam lingkaran titik berjuang. Jangan bilang “tawakal” kalau lamaran belum disebar. Atau bagi kaum ibu yang sedang di nadir kelumpuhan ekonomi, di lingkar KPM PKH Jangan bilang “pasrah sama Allah” kalau P2K2 belum diikuti untuk dapat ilmunya.
Belajar pada Tawakal Siti Hajar ,Tawakkal lahir setelah keringat dan tenaganya habis di Shafa-Marwah berlari menenun harapan dan doa.
2. Pandangan Pakar: Siti Hajar = Prototipe “Agency” Perempuan
Dr. Amina Wadud: Siti Hajar hancurkan mitos “perempuan harus nunggu diselamatkan laki-laki”. Ibrahim pergi karena wahyu. Tapi Siti Hajar yang putuskan: mau mati atau mau lari? Beliau pilih jadi subjek, bukan objek. Beliau negosiasi langsung sama Allah lewat ikhtiarnya.
Syekh Ali Jaber rahimahullah: “Kalimat Siti Hajar ‘Allah tidak akan menyia-nyiakan kami’ itu ijazah tauhid. Dia tidak tanya ‘kenapa saya?’. Hajar hanya bertanya ‘Allah perintahkan?’ Kalau ya, maka saya yakin Allah urus sisanya.” Itulah definisi tawakal Level Mutiara Murni. Sesederhana kata tapi penuh isi dada dengan keimanan akan sangka baik pada TuhanNya.
3. Dasar Al-Quran & Hadis: Allah Abadikan “Lari” Ibu Tunggal
Al-Quran tidak sebut nama Siti Hajar. Tapi Allah abadikan aksinya jadi rukun Islam:
QS. Ibrahim: 37
“Ya Tuhan kami, aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat”
Lembah mati itu hidup karena ada Siti Hajar yang “mengusahakan” shalat lewat ikhtiarnya. Sekiranya Tidak ada ikhtiar Hajar maka mungkin tidak akan ada yang shalat di situ.
Hadis Shahih Bukhari No. 3364
Inti dialog malaikat Jibril & Siti Hajar: “Kepada siapa engkau tinggalkan kami?” Jawab Hajar: “Kepada Allah”. Lalu Jibril hentakkan kaki, keluarlah Zamzam.
Lihat urutan kejadiannya : Percaya dulu → Lari 7x dulu → Baru Zamzam keluar. Sekiranya Hajar langsung duduk, Zamzam tidak akan pernah ada. Mekah tidak akan pernah ada.
Sejatinya Kita Semua Murid Siti Hajar
Kamu Pendamping PKH yang KPM-nya nolak ikut P2K2? Kamu ibu KPM yang nunggu PKH cair baru mau usaha? Kamu anak yang bilang “susah cari kerja” tapi CV tidak pernah dikirim?kamu ibu tunggal yang saat ini nangis cari sekolah untuk anaknya masuk karena keterbatasan rombel. Atau mungkin kamu para dosen yang mahasiswanya belum sesuai harapan atau kamu mahasiswa yang melihat negara dengan daya kritisnya yang belum pada tatanan adil makmur . Berlarilah!!!
Kamulah yang sedang “duduk di gurun” menunggu Zamzam.
Siti Hajar ngajarin kita rumus 3 langkah:
1. Tanya: “Ini perintah Allah atau bukan?” Kalau cari nafkah halal tentu perintah Allah.
2. Lari: Shafa-Marwah versi kamu = daftar kerja, ikut pelatihan, jualan online, datang ke balai desa. Lari 7x kalau perlu. Gagal 6x tidak apa.
3. Yakin: Setelah lari, baru bilang “Idzan laa yudhii’una” = “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Maka berIkhtiar dulu baru tawakal. Urutannya tidak boleh terbalik.Keringat harus ngucur agar pintu apa yang diinginkan dibuka.
Siti Hajar tidak mewariskan emas. Beliau mewariskan kaki yang berlari. Karena dia tahu: emas bisa habis. Tapi kaki yang berani berlari di gurun, akan selalu menemukan Zamzam. Siti Hajar mewariskan sangka baik pada TuhanNya, ” sebagaimana prasangka hamba pada TuhanNya seperti itulah yang akan diberikan”.
Maka berhenti jadi “Siti yang menunggu Ibrahim pulang”. Jadilah “Hajar yang berlari untuk Ismailnya”.
Karena di ujung larimu, Allah sudah siapkan Zamzam.














