KabarMakassar.com — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar menegaskan bahwa oli kendaraan bukanlah produk yang masuk dalam kategori pangan dan tidak boleh dikonsumsi manusia dalam kondisi apa pun. Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan sekelompok pria meminum oli yang diklaim sebagai penambah stamina.
Fenomena tersebut memicu kekhawatiran karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat mengenai keamanan produk nonpangan. Selain itu, tindakan tersebut dinilai berisiko menimbulkan dampak kesehatan serius jika ditiru oleh masyarakat luas.
Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, menegaskan bahwa oli sama sekali tidak memiliki fungsi sebagai bahan konsumsi manusia. Ia menjelaskan bahwa oli merupakan produk industri yang dirancang khusus untuk pelumasan mesin kendaraan dan bukan untuk kebutuhan tubuh manusia.
Kesalahan dalam memahami fungsi produk tersebut dapat berujung pada tindakan berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk memahami peruntukan produk sebelum digunakan atau dikonsumsi.
“Jelas oli tidak termasuk pangan dan tidak boleh dikonsumsi karena bukan diperuntukkan bagi manusia,” ujar Yosef, Jumat (10/04).
Lebih lanjut, Yosef menjelaskan bahwa kandungan kimia dalam oli memiliki potensi menimbulkan dampak serius jika masuk ke dalam tubuh manusia. Paparan zat kimia tersebut dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ tubuh yang berfungsi penting dalam metabolisme.
Risiko tersebut tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan organ dalam jangka panjang. Hal ini menjadi alasan utama mengapa oli tidak boleh dikonsumsi dalam bentuk apa pun.
“Bahan kimia dalam oli berisiko terhadap kesehatan dan bisa memengaruhi organ penting seperti hati dan ginjal,” tambahnya.
Sejalan dengan peringatan dari berbagai pihak, BBPOM Makassar juga mengimbau masyarakat untuk tidak meniru tindakan dalam video yang beredar di media sosial tersebut. Edukasi kepada masyarakat dinilai penting agar publik mampu membedakan antara produk pangan dan produk nonpangan yang berbahaya jika dikonsumsi.
Kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan dan produk kimia menjadi faktor penting dalam mencegah kejadian serupa terulang kembali. Dengan meningkatnya literasi kesehatan, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital.
“Kita harus menjadi konsumen yang cerdas dan bijak, mampu melindungi diri serta keluarga dari tindakan yang bisa merugikan kesehatan,” pungkasnya.
Sebelumnya, media sosial diramaikan oleh beredarnya video viral yang memperlihatkan sejumlah pria mengonsumsi oli mesin dengan alasan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan stamina tubuh. Tindakan tersebut langsung menarik perhatian warganet dan menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan karena dinilai berbahaya bagi kesehatan.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa terdapat sedikitnya dua video berbeda yang menampilkan aksi serupa, yakni beberapa pria yang terlihat meminum oli secara bersama-sama. Salah satu video diduga direkam di area dalam sebuah masjid, sedangkan video lainnya diduga diambil di halaman depan rumah warga.
Dalam rekaman tersebut, para pria terdengar berbicara menggunakan dialek dan bahasa Bugis-Makassar. Mereka menyebut bahwa konsumsi oli dipercaya dapat meredakan pegal dan linu pada tubuh serta meningkatkan stamina, meskipun klaim tersebut tidak memiliki dasar medis maupun ilmiah.













