KabarMakassar.com — Program urban farming sebagai salah satu unggulan Pemerintah Kota Makassar mendapat perhatian dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, Hartono.
Ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak mengulang pengalaman program sebelumnya yang dinilai tak berdampak maksimal.
“Jangan sampai kita ulang lagi seperti lorong wisata (pemerintah Walikota Makassar Mohammad Danny Pomanto). Sekarang urban farming ini dijadikan program unggulan, pertanyaannya ada tidak risetnya?,” tegas Hartono, Senin (23/02).
Ia menyoroti dalam dokumen RPJMD, urban farming ditargetkan menjalin kerja sama atau MoU dengan industri, pelaku usaha hingga swalayan pada 2027. Namun menurutnya, target itu harus dihitung secara realistis berdasarkan kapasitas produksi.
“Kita harus tahu dulu kapasitas produksinya berapa. Mungkin tidak untuk suplai industri atau swalayan? Kalau memang memungkinkan dan bisa menaikkan ekonomi masyarakat, ayo kita dukung anggaran besar-besaran. Tapi kalau potensinya kecil, jangan dipaksakan,” ujarnya.
Hartono menegaskan, ukuran keberhasilan program bukan sekadar aktivitas menanam di pekarangan warga. Ia menilai, dampak ekonomi baru terasa jika hasil produksi benar-benar masuk ke pasar.
“Kalau cuma tanam untuk dimakan sendiri, itu tidak perlu jadi program unggulan. Tidak perlu besar-besaran. Yang kita mau itu produksinya sampai ke pasar dan memperbaiki ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendekatan berbasis data dalam setiap kebijakan strategis. Menurutnya, konsep governance full impact yang didorong Wali Kota hanya bisa terwujud jika seluruh program disusun berdasarkan riset yang kuat.
“Kalau tidak by riset, saya khawatir tidak membawa impact seperti yang diharapkan. Kota sebesar Makassar ini harus terukur. Kebijakan penting itu wajib ada data ilmiahnya,” tegasnya.
Hartono pun mendorong peran BRIDA diperkuat sebagai rujukan utama data dan kajian kebijakan. Ia berharap seluruh klaim dan perencanaan program pemerintah kota ke depan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan mencerminkan kondisi riil di lapangan.













