KabarMakassar.com — Prevalensi stunting di Kabupaten Gowa menunjukkan tren penurunan signifikan dan menjadi salah satu yang terendah di Sulawesi Selatan. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Gowa turun dari 21,1 persen menjadi 17 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa, drg. Abd Haris, mengatakan penurunan tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif lintas sektor yang dilakukan secara konsisten di seluruh tingkatan pemerintahan hingga desa.
“Penurunan angka stunting ini merupakan hasil intervensi terencana dan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat,” ujar Abd Haris, Minggu (28/12).
Ia menjelaskan, upaya percepatan penurunan stunting di Gowa dijalankan sesuai Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 melalui penguatan intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Selain itu, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) diperkuat di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa untuk memastikan program berjalan efektif.
Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah pelaksanaan program Aksi Stop Stunting (ASS) yang menyasar desa-desa lokus. Setiap desa menetapkan sasaran intervensi bagi balita dan ibu hamil yang berisiko stunting untuk mendapatkan pendampingan intensif.
“Intervensi dilakukan secara langsung di desa, dengan fokus pada balita dan ibu hamil bermasalah gizi. Pendekatan ini dinilai efektif karena menyentuh langsung kelompok sasaran,” jelasnya.
Program ASS diperkuat dengan penempatan Pendamping Gizi Desa yang direkrut secara khusus, serta keterlibatan kader pendamping dan Tim Penggerak PKK. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, pemantauan status gizi, serta edukasi perubahan perilaku keluarga.
Abd Haris menambahkan, fokus utama pencegahan stunting di Gowa diarahkan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Menurutnya, periode ini menjadi kunci utama dalam mencegah lahirnya kasus stunting baru.
“Kami terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kualitas intervensi gizi, serta mencegah munculnya kasus stunting baru sejak awal kehidupan,” katanya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Gowa menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga 14 persen. Target tersebut akan dicapai melalui peningkatan kualitas layanan kesehatan, penguatan peran TPPS, serta sinergi lintas sektor yang berkelanjutan di tingkat desa dan kecamatan.















