kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Sumba Solusi Alam Terangi Ratusan Rumah Warga di Desa Terpencil

Sumba Solusi Alam Terangi Ratusan Rumah Warga di Desa Terpencil
Perwakilan PT Sumba Solusi Alam yang mengikuti pendampingan di Makassar yakni Jetty Arlenda Maro dan Sriwani Spadu Lemba (Dok : Dini KabarMakassar).

KabarMakassar.com — PT Sumba Solusi Alam – SSA (Sumba Sustainable Solutions) menjadi salah satu dari 15 starup yang terpilih di seluruh Indonesia mengikuti program kewirausahaan Kinetix Nex yang merupakan program inkubasi bisnis yang diluncurkan di Makassar pada Rabu (27/08) kemarin.

Program Kinetik Nex merupakan program pemerintah Australia bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dalam memberikan pendampingan bisnis kepada 15 starup terpilih termasuk pendampingan mentor, pendanaan dan akses ke investor.

Lima dari starup uang terpilih nantinya akan mendapatkan pendanaan total senilai Rp1,6 Miliar untuk menguji inovasi solusi iklim mereka.

Perwakilan PT Sumba Solusi Alam yang mengikuti pendampingan di Makassar yakni Jetty Arlenda Maro dan Sriwani Spadu Lemba menjelaskan bahwa Sumba Sustainable Solutions telah didirikan pada tahun 2019 dengan tujuan meningkatkan akses listrik, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan pekerjaan layak bagi masyarakat di pedesaan di Sumba, Indonesia.

Jetty mengutarakan bahwa kehidupan di desa-desa terpencil tidak memiliki akses listrik sehingga Sumba Solusi Alam bermitra dengan petani untuk jangka panjang guna mendorong perubahan nyata dan berkontribusi pada ekonomi sirkular.

“Sumba Solusi Alam ini awalnya masih seperti NGO. Kemudian bergabung dalam satu program namanya Program Terang di tahun 2016. Setelah selesai dari program itu maka SSA ini membangun perusahaan. Awalnya kami bergerak di Agroprocessing bertenaga surya,” ungkapnya saat diwawancara di Novotel Makassar pada Kamis (28/08).

Jetty menjelaskan lebih jauh bahwa PT. Sumba Solusi Alam (SSA) berkomitmen untuk membangun kapasitas melalui keahlian, sumber daya, dan stabilitas keuangan yang diperlukan untuk mendukung dan mengangkat masyarakat miskin di Sumba.

SSA memiliki dua bidang program yakni kegiatan bisnis berbasis bambu. Perusahaan bambu ini merupakan pusat kelangsungan hidup jangka panjang SSA.

Hal ini memungkinkan organisasi untuk mempertahankan staf yang terampil, menjaga kesinambungan operasional, dan terus memberikan dukungan kepada masyarakat lokal, bahkan tanpa adanya dana hibah.

Melalui model terpadu ini, SSA memastikan pembangunan masyarakat yang konsisten, efektif, dan berkelanjutan di seluruh Sumba.

“Jadi untuk Sumba Solusi Alam sendiri ini dia ada dua divisi, divisi pengawetan bambu dan region re-energy seperti itu. Jadi pengawetan bambu itu tim kami membeli bambu dari petani kami awetkan dan kami jual ke industry seperti contohnya ke resort, resto dan lain sebagainya. Sebenarnya bambu ini lebih kayak kita bantu ekonomi masyarakat juga sebenarnya buat kami petani-petani lokal di Sumba karna rata-rata disanakan penghasilannya dari padi, dengan adanya bambu dimusim kemarau itu terbantukan ekonominya mereka dan kami membeli bambu kami awetkan dan kami jual di industri pariwisata itu sebagai nilai profitnya perusahaan,” sambung Jetty.

Selanjutnya, program energi dimana PT Sumba Solusi Alam menjual atau memberikan teknologi power wheels atau Solar Home System untuk menerangi skala rumah tangga.

Power wheels ini kemudian dijual ke ratusan rumah warga di desa-desa terpencil di Sumba dengan sistem kredit dan diberikan secara gratis ke fasilita-fasilitas layanan publik seperti puskesmas dan pustu.

“Kami punya ada beberapa program, yang pertama itu power wheels ini, di ini terbuat dari e-waste atau baterai bekas atau limbah elektronik bekas yang kami gunakan kembali atau kami daur ulang kembali jadi satu lampu system ini. Terus ada juga kami menjual satu merek namanya itu sanking, jadi itu dia pabrikasi kak, jadi cukup handal, sehingga itu kami bisa jual di daerah perkotaan tetapi khusus untuk power wheels ini kami distribusikannya langsung kedesa-desa yang memang ruler atau jauh dari distribusi dari PLN,” ungkap Sriwani.

Hingga saat ini, telah ada sekitar lebih dari 360 rumah yang merasakan dan menerima manfaat dari hadirnya teknologi power wheels tersebut.

“Sejauh ini yang terdampak itu sudah lebih dari 360 rumah yang menerima manfaat. Sangat terbantu kak terutama untuk perempuan, karenakan apalagi ibu-ibu yang memiliki bayi, di malam hari itukan kadang kalau tidak punya listrik mereka agak sedikit repot dalam hal untuk membuat susu anak atau ganti popok anak, tapi ketika ada lampu ini, mereka sudah sangat-sangat terbantu karena dia terang sampai pagi itu yang pertama, terus yang kedua untuk yang punya usaha kecil di desa, mereka yang awalnya itu hanya buka sampai jam 5 atau jam 6 sore paling lambat mereka tutup saat ini mereka bisa buka sampai kapan saja bisa sampai jam 12 malam atau lebih kalau ada acara pesta di desa situ,” sambungnya.

Power wheels yang dihadirkan PT Sumba Solusi Alam tersebut dengan energi 115 watt menggunakan lampu LED sehingga cukup sangat terang.

Power wheels yang dihadirkan juga dengan tiga design lampu terang yang dapat diubah sesuai keingin dan kebutuhan.

Meski begitu, program yang dilakukan tak lepas dari tantangan dimana sering kali power wheels mengalami kerusakan atau gangguan akibat kurangnya pengetahuan operasio oleh masyarakat setempat.

Hal ini membuat tim PT Sumba Solusi Alam harus melakukan pengecekan minimal sekali sebulan dan membantu proses perbaikan alat tersebut.

Penggunaan power wheels kepada masyarakat ini dikenakan biaya tagihan token Rp50 ribu per bulan dengan pemberian alat secara kredit ke masyarakat.

Hal ini menjawab masalah masyarakat setempat yang sebelumnya hanya menggunakan minyak tanah yang harganya lebih mahal dan rawan kebakaran.

“Akhirnya kita hadir power wheels tadi itu lebih membantu mereka dan impactnya itu gak cuma sebagai penerangan mereka, tapi juga bisa membantu ekonomi masyarakat sekitar terutama para agen-agen perempuan yang mendapatkan fee 10% total tagihan token masyarakat tadi,” jelas Jetty.

error: Content is protected !!