KabarMakassar.com — Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.260 per dolar AS, menguat 0,18% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang merosot 0,17% ke level 98,02, posisi terendah dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi ini menunjukkan semakin lunturnya minat investor terhadap mata uang Negeri Paman Sam di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.
Penurunan dolar AS dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar setelah Israel meluncurkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Iran.
Serangan tersebut memicu lonjakan tensi geopolitik dan menambah tekanan terhadap dolar, yang biasanya dianggap sebagai aset safe haven.
Tak hanya itu, bayang-bayang perang dagang yang kembali muncul dari kebijakan Presiden AS Donald Trump turut memperburuk sentimen terhadap greenback. Trump kembali menggulirkan ancaman tarif dagang, menambah beban tekanan terhadap mata uang AS.
Presiden Trump juga memperingatkan Teheran untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap fasilitas milik AS.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform Truth Social, ia menegaskan bahwa jika Iran menyerang dalam bentuk apa pun, AS akan merespons dengan kekuatan militer penuh yang “belum pernah terlihat sebelumnya.”
Trump menyatakan bahwa konflik antara Israel dan Iran sebenarnya bisa diakhiri dengan mudah, dan menyarankan agar kedua pihak segera mencapai kesepakatan damai.
Sementara itu, dua pejabat AS mengonfirmasi bahwa Israel telah memulai operasi militer terhadap Iran, namun menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak terlibat dalam serangan tersebut.
Beberapa laporan menyebutkan suara ledakan terdengar di timur laut Teheran, ibu kota Iran, meskipun belum ada rincian resmi mengenai dampaknya.
Ketegangan geopolitik ini terus menjadi penentu utama arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar mata uang.
Dengan dolar AS yang terus tertekan, mata uang seperti rupiah berpeluang mencatat penguatan lebih lanjut dalam jangka pendek, meskipun tetap dibayangi risiko volatilitas tinggi.














