KabarMakassar.com — Nilai tukar mata uang Asia termasuk Rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (13/6), seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Iran yang memicu gelombang risk-off di pasar keuangan global.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 10.47 WIB, sebagian besar mata uang utama kawasan mengalami depresiasi. Pelemahan terdalam terjadi pada won Korea Selatan yang ambles 1,03%, disusul rupee India yang turun 0,68%, dan ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,59%, sedangkan yuan Tiongkok melemah tipis 0,04%.
Sementara itu, yen Jepang hanya menguat tipis sebesar 0,02%, mencerminkan pergeseran minat investor ke aset safe haven di tengah cuaca geopolitik.
Rupiah pun ikut tertekan. Pada pembukaan perdagangan, mata uang Garuda dibuka melemah di level Rp16.260 per dolar AS, atau turun 0,1% dari penutupan sebelumnya di posisi Rp16.243.
Penguatan dolar AS tercermin dari indeks dolar (DXY) yang naik 0,31% ke level 98,23 pada pagi ini.
Investor tampaknya berbondong-bondong mencari perlindungan di aset aman seperti dolar AS, franc Swiss, dan yen Jepang, menyusul kabar bahwa Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran.
Dalam operasi militer yang diberi nama Rising Lion, Israel mengonfirmasi telah menargetkan sejumlah fasilitas nuklir, pusat pengembangan rudal, serta ilmuwan yang terlibat dalam program nuklir Iran.
Aksi militer ini disebut sebagai upaya mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.
Gejolak geopolitik yang terus memanas ini dinilai menjadi katalis negatif bagi pasar uang dan meningkatkan volatilitas nilai tukar di kawasan Asia.













