Indeks
News  

Umat Buddha Makassar Tebar 1.000 Pipa Biopori Dukung Program Zero Waste Pemkot

Umat Buddha Makassar Tebar 1.000 Pipa Biopori Dukung Program Zero Waste Pemkot
Penyerahan Pipah Biopori (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Dukungan terhadap program lingkungan Pemerintah Kota Makassar terus meluas, kali ini datang dari komunitas umat Buddha melalui gerakan ‘Bioberkah’ atau Biopori Mengubah Sampah Jadi Berkah yang digagas Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Makassar.

Gerakan tersebut resmi diluncurkan oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi, di Vihara Vimalakirti, Minggu (26/10),

Peresmian ini ditandai dengan penyerahan simbolis 120 pipa biopori pertama dari total 1.000 pipa yang akan disebar ke seluruh vihara di Makassar. Inisiatif ini menjadi langkah konkret umat Buddha dalam mendukung program Zero Waste 2027 yang tengah digencarkan oleh Pemkot Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.

Ketua Permabudhi Kota Makassar, Suzanna, mengatakan gerakan Bioberkah bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan wujud nyata spiritualitas sosial umat Buddha yang selaras dengan visi pembangunan berkelanjutan pemerintah kota.

“Gerakan ini lahir dari niat tulus untuk berkontribusi pada Makassar yang lebih bersih dan lestari. Kelihatannya sederhana, tapi ini langkah spiritual untuk belajar ‘lebih repot’ demi masa depan yang lebih baik,” ujar Suzanna.

Ia menjelaskan, sebanyak 120 pipa biopori pertama akan dipasang di vihara-vihara dan lingkungan tempat tinggal umat Buddha di berbagai wilayah Makassar. Nantinya, 880 pipa berikutnya akan didistribusikan secara bertahap hingga seluruh vihara di kota ini memiliki fasilitas biopori untuk pengelolaan sampah organik.

Menurut Suzanna, kegiatan ini juga menjadi ruang pemersatu bagi berbagai aliran umat Buddha di Makassar, dengan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Gerakan ini juga menyatukan berbagai aliran umat Buddha dalam satu semangat yang sama, yaitu peduli pada bumi dan generasi yang akan datang,” imbuhnya.

Gerakan Bioberkah digagas sebagai bentuk sinergi antara masyarakat dengan pemerintah dalam menekan volume sampah rumah tangga yang masuk ke TPA Tamangapa. Sistem biopori yang diterapkan diharapkan dapat mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi pupuk alami sekaligus meningkatkan daya resap air untuk mencegah banjir.

Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, mengapresiasi penuh langkah umat Buddha yang turut menjadi bagian dari perubahan perilaku lingkungan di tingkat komunitas. Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program Zero Waste.

“Saya senang karena masyarakat bergerak sendiri. Pemerintah bisa membuat aturan, tapi perubahan hanya terjadi kalau masyarakat ikut bergerak. Apa yang dilakukan Permabudhi ini bukti nyata kolaborasi yang kita harapkan,” ujar Appi.

Appi menegaskan, program lingkungan Makassar saat ini tengah difokuskan pada pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dan pemberdayaan RT/RW agar menjadi pusat pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing.

“Setiap RT nanti harus punya sistem pengelolaan sampahnya sendiri ada biopori, TEBA, dan pemisahan sampah rumah tangga. Dari sinilah keseimbangan lingkungan dimulai,” tegasnya.

Gerakan Bioberkah menjadi bukti bahwa kesadaran masyarakat lintas agama mulai tumbuh dan bergerak seiring dengan arah kebijakan kota. Selain mengolah sampah organik, hasil biopori juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming yang kini mulai digalakkan pemerintah.

Permabudhi berharap, langkah sederhana ini dapat menjadi bagian dari gerakan besar menuju Makassar Zero Waste 2027, di mana rumah tangga tidak lagi bergantung pada TPA, melainkan mampu mengelola sampahnya sendiri menjadi sumber manfaat baru bagi lingkungan dan ekonomi keluarga.

“Kalau setiap komunitas mau bergerak seperti ini, saya yakin Makassar akan lebih cepat mencapai targetnya sebagai kota bersih, mandiri, dan lestari,” pungkas Appi.

error: Content is protected !!
Exit mobile version