KabarMakassar.com — Dansantrol Lantamal IV Makassar Letkol Laut Roni, mengungkapkan kota Makassar memiliki sedikitnya sekitar 4.200 warung kopi (warkop).
Banyaknya titik tempat warga berkumpul dinilai dapat menjadi ruang awal terbentuknya arus informasi dan diskusi yang kemudian berkembang di ruang publik.
Hal itu disampaikan Dansantrol Lantamal IV Makassar Letkol Laut (P) Roni dalam agenda Rapat Koordinasi Forkopimda Kota Makassar terkait situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah kota Makassar di Swiss-Belhotel Waterfront Makassar, Senin (31/08).
Letkol Romi menyebut jumlah warkop di Makassar berdasarkan data yang diterimanya mencapai sekitar 4.200 titik. Angka tersebut disebut menempatkan Makassar sebagai kota dengan jumlah warkop terbanyak dibanding sejumlah kota di kawasan timur Indonesia yang menjadi pembandingnya.
“Makassar itu ada di peringkat pertama, yang jumlahnya sekitar kurang lebih 4.200 yang terdata,” ujar Romi.
Menurut dia, tingginya jumlah warkop bukan semata persoalan tempat nongkrong. Warkop dipandang sebagai salah satu ruang pertemuan masyarakat yang memungkinkan berbagai informasi berkembang melalui diskusi antarpengunjung.
Romi kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan tiga titik yang dinilainya penting untuk membaca dinamika Kota Makassar, yakni warkop, lorong, dan layar.
“Warkop, lorong, dan layar ini yang akan menjadikan kemampuan kita melihat stabilitas yang ada di Kota Makassar,” katanya.
Ia menjelaskan, warkop dapat menjadi salah satu jendela awal masuknya informasi, terutama informasi yang beredar melalui media sosial. Diskusi yang berlangsung di tempat tersebut kemudian berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat sebelum berkembang ke lingkungan yang lebih luas.
Sementara itu, istilah ‘lorong’ digunakan untuk menggambarkan ruang yang relatif jauh dari jangkauan pengawasan langsung aparat. Adapun ‘layar’ merujuk pada telepon seluler yang menjadi sarana utama masyarakat menerima dan menyebarkan informasi.
“Ketika tempat ini adalah menjadikan kata sapor, maka bapak-bapak, ibu sekalian, di Makassar selalu ada aparat yang ada di depan bapak-bapak, ibu sekalian,” ujarnya.
Romi menekankan pentingnya kemampuan merespons informasi secara cepat, tetapi tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia memperkenalkan pendekatan yang disebutnya sebagai ‘jalan cepat’, yakni melakukan analisis awal terhadap informasi yang muncul sebelum menentukan langkah berikutnya.
Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial dalam hitungan menit dapat memengaruhi persepsi publik. Karena itu, aparat dan pemangku kepentingan perlu memiliki kemampuan membaca informasi sejak awal untuk menentukan apakah informasi tersebut perlu ditindaklanjuti.
“Yang kita lihat di lima menit pertama itu bukan menjadikan suatu keputusan. Kita harus cepat menganalisis,” katanya.
Ia menilai keberadaan ribuan warkop pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. Sebaliknya, ruang-ruang diskusi tersebut dapat menjadi kekuatan sosial jika dikelola dan dipahami sebagai bagian dari karakter masyarakat perkotaan.
“Semakin banyak warkopnya, semakin baik. Sebenarnya itu hal yang sangat positif,” ujar Romi.
Namun, menurut dia, arus informasi yang terbentuk dari warkop, lorong, dan layar tetap perlu dicermati karena ketiganya dapat menjadi jalur penyebaran informasi yang memengaruhi dinamika di Kota Makassar.
Romi juga menekankan posisi Makassar sebagai pusat aktivitas kawasan timur Indonesia. Kondisi tersebut membuat berbagai perkembangan dari wilayah sekitar dapat beririsan dengan dinamika kota.
Ia meminta koordinasi antarpemangku kepentingan terus diperkuat, termasuk dalam membaca potensi persoalan yang berkembang di tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Selama itu tidak kita laksanakan dan prosesnya tidak berjalan dengan benar-benar terarah, yakinkanlah bahwa itu akan semakin berbahaya,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi keamanan yang tetap terjaga merupakan hasil kerja sama berbagai pihak.
“Koordinasi dan evaluasi terhadap perkembangan situasi di Makassar dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar potensi persoalan dapat diantisipasi sejak dini,” tukasnya.













