KabarMakassar.com — Tim Riset IAIN Bone mendorong penguatan pendidikan Islam inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) melalui pengembangan model kurikulum adaptif berbasis nilai moderasi di madrasah.
Upaya tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) program Ministry of Religious Affairs–The Awakened Indonesia Research Funds Program (MoRA The AIR Funds) yang digelar di Hotel Grand Town Makassar.
FGD mengangkat penelitian bertajuk “Model Inclusive Islamic Education (IIE) untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Madrasah Inklusi melalui Perancangan Kurikulum Adaptif Berbasis Nilai Moderasi di Indonesia.”
Kegiatan dilaksanakan secara hybrid melalui pertemuan tatap muka dan daring menggunakan Zoom. Forum ini melibatkan praktisi dan pemangku kepentingan pendidikan untuk menggali pengalaman, tantangan, serta kebutuhan madrasah dalam memberikan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Sebanyak 10 sekolah dan madrasah ibtidaiyah dari empat provinsi terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.
Selain perwakilan sekolah dan madrasah, FGD turut dihadiri pengawas sekolah, unsur Kementerian Agama, Kepala Seksi Madrasah Kabupaten Bone, kepala madrasah, guru, serta orang tua peserta didik.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut dimaksudkan untuk memperoleh perspektif mengenai pelaksanaan pendidikan inklusif, mulai dari kebijakan, pendampingan satuan pendidikan, pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran hingga pemenuhan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.
FGD diselenggarakan Tim Riset IAIN Bone yang diketuai Prof. Dr. Hj. Astuti, M.Pd. Tim penelitian melibatkan berbagai pihak yang memiliki pengalaman dan perhatian terhadap pengembangan pendidikan inklusif di lingkungan madrasah.
Salah satu narasumber utama, Dr. Lailil Qomariah, M.Pd., yang dikenal sebagai pelopor madrasah inklusi, memberikan penguatan mengenai pengembangan madrasah inklusif dan pengelolaan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.
Dalam pemaparannya, Lailil menekankan pendidikan inklusif tidak sekadar memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama peserta didik lainnya.
Madrasah juga perlu memiliki kesiapan dalam menyediakan kurikulum, metode pembelajaran, lingkungan pendidikan, tenaga pendidik hingga sistem pendampingan yang mampu merespons keragaman kebutuhan setiap peserta didik.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan Inclusive Islamic Education (IIE). Pendidikan inklusif di madrasah tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mengintegrasikan nilai keislaman, kemanusiaan, kesetaraan, penghargaan terhadap perbedaan, dan moderasi beragama.
Perbedaan karakteristik madrasah dari empat provinsi juga menjadi bahan penelitian untuk memetakan kebutuhan pengembangan kurikulum adaptif. Kondisi daerah, pengalaman menangani peserta didik berkebutuhan khusus hingga ketersediaan sumber daya menjadi bagian yang didiskusikan.
Melalui FGD tersebut, Tim Riset IAIN Bone berupaya mendapatkan data dan masukan langsung dari praktisi pendidikan untuk memperkuat desain penelitian sehingga model yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi dapat diterapkan sesuai kebutuhan madrasah.
Ketua Tim Riset IAIN Bone, Prof. Dr. Hj. Astuti, M.Pd., menekankan pentingnya kolaborasi antara peneliti, madrasah, pengawas, guru, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun pendidikan inklusif yang kontekstual dan berkelanjutan.
Menurutnya, pengalaman nyata dari madrasah menjadi bagian penting dalam penelitian untuk mengetahui praktik, tantangan, serta kebutuhan dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
FGD berlangsung interaktif melalui pemaparan narasumber, diskusi dan berbagi pengalaman. Peserta yang hadir secara langsung maupun melalui Zoom turut memberikan masukan berdasarkan pengalaman masing-masing dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Pertukaran pengalaman dari madrasah di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten diharapkan memperkaya penelitian sekaligus menjadi dasar dalam merancang model Inclusive Islamic Education (IIE) yang sesuai dengan karakteristik pendidikan madrasah di Indonesia.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan Islam inklusif, terutama dalam menghadirkan kurikulum yang mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik dengan tetap mempertahankan karakter dan nilai-nilai keislaman madrasah.
