KABARBUGIS.ID – Salah seorang kepala rumah tangga bernama Syamsuddin Yusuf (47) warga Dusun Maccini, Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai saat ini tengah menekuni aktivitas kerajinan tangan berbahan dasar bambu hingga meraup keuntungan jutaan rupiah perbulan.
Syamsuddin Yusuf mengaku telah menekuni pekerjaannya sebagai pengrajin pernak-pernik dari bambu sejak tujuh tahun silam bersama istri serta ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Dirinya menamai kelompok pengrajin ini adalah "Eko Eki Jaya" yang merupakan nama dari anaknya.
"Ini mulai sudah tujuh tahun dan kelompoknya bersama ibu-ibu sekitar sini yang saya beri nama Eko Eki Jaya dari nama anak saya, kalau keuntungan itu tidak menentu tapi sekitar 3-4 juta perbulan," kata Syamsuddin kepada Tim KabarBugis.id saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (6/10).
Lelaki yang akrab disapa Syam itu juga menjelaskan bahwa proses pemilihan bahan dasarnya pun harus diperhatikan, pasalnya harus memiliki bambu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Sementara itu sebelum tahap pembuatan ia harus melakukan proses pengawetan sekitar delapan jam serta proses pengeringan.
"Kita memilih yang terbaik, kalau bambu basa kita awetkan atau masak delapan jam dulu supaya tidak kena penyakit bambu yang berbubuk lalu dikeringkan sebelum dibentuk. Tapi jika bambunya itu kering tidak perlu lagi kita masak," jelasnya.
Ia juga mengatakan bahan baku dari kerajinan tersebut tidaklah susah untuk didapatkan karena disekitar tempat tinggalnya sudah cukup banyak.
"Di kawasan Maccini ini banyak Bambu. Alhamdulillah bahan bakunya melimpah, ada yang dibeli dan ada juga milik sendiri," lanjutanya.
Adapun hasil kerajinannya seperti, Miniatur Perahu Pinisi, Miniatur Rumah Adat Karampuang dengan bermacam ukuran, Tempat Tisu dan Air Mineral, Tempat Lampu, Gelas hingga talenan gelas. Sementara mengenai harga ia membandrol cukup bervariasi tergantung jenis kerajinan.
"Untuk harganya tergantung jenisnya, misalnya rumah adat Karampuang yang kecil 150 ribu rupiah tapi jika pakai kaca maka harganya 350 ribu rupiah, tapi kalau seperti perahu pinisi yang besar ini itu 500 ribu rupiah," ungkap Syamsuddin.
Diketahui, waktu pembuatan juga berbeda-beda tergantung tingkat kesulitannya, meskipun begitu dirinya mengaku telah merambah hingga pasar Selayar, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi Tenggara.













