KabarMakassar.com — Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) memperkuat cadangan pangan menghadapi ancaman El Nino Godzilla dan gejolak global di Timur Tengah.
Langkah ini ditandai dengan peningkatan penyerapan beras secara masif yang kini mencapai rata-rata 8.000 ton per hari di Sulsel.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulselbar, Fahrurozi, menegaskan strategi tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dua risiko sekaligus, yakni dampak perubahan iklim dan potensi kenaikan harga akibat konflik internasional.
“Kami terus melakukan pemupukan stok. Setiap hari rata-rata penyerapan mencapai 8.000 ton untuk memastikan ketersediaan tetap aman,” ujarnya, Selasa (31/03).
Ia menjelaskan, faktor pertama yang diantisipasi adalah dampak konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan berimbas pada harga pangan. Karena itu, Bulog mempercepat penyerapan dan penyimpanan beras agar stok tetap terkendali.
Hasilnya, cadangan beras di Sulawesi Selatan kini mencapai 700.000 ton tertinggi sepanjang sejarah Bulog di wilayah tersebut.
“Stok kami saat ini 700 ribu ton dan ini cukup aman bahkan hingga puluhan bulan ke depan. Masyarakat tidak perlu khawatir,” jelas Fahrurozi.
Selain faktor global, Bulog juga mewaspadai potensi El Nino yang dapat memicu musim kemarau panjang dan berdampak pada penurunan produksi pertanian.
Sebagai langkah antisipasi, Bulog memastikan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap berjalan optimal di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Tak hanya itu, mulai April, Bulog juga akan menggencarkan penyaluran bantuan pangan sebagai bantalan sosial bagi masyarakat.
“Kami juga mulai menyalurkan bantuan pangan. Setiap penerima akan mendapatkan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak untuk menjaga daya beli di tengah potensi risiko tersebut,” tukasnya.
