kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Semarakkan Peringatan Hari Kebudayaan, Ini Makna Tarian Gandrang Bulo

KabarMakassar.com — Masyarakat Kota Makassar memperingati Hari Kebudayaan ke-4 Kota Makassar, Jumat (01/04). Pusat Parade digelar di jalan Balaikota samping Kantor Balaikota Makassar.

Peringatan Hari Kebudayaan tersebut disemarakkan di lorong-lorong Kota Makassar dengan menampilkan sejumlah tarian dan makanan tradisional khas Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Salah satu tarian yang menyemarakkan Hari Kebudayaan ke-4 tahun ini yakni Tari Gandrang Bulo. Tak tanggung-tanggung, tari ini disemarakkan di 1000 lorong yang ada di Kota Makassar.

Lalu, apakah sebenarnya Tari Gandrang Bulo itu?

Dikutip dari Website Resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Tari Gandrang Bulo berasal dari dua kata yakni Gandrang yang berarti Tabuhan dan Buloa yang berarti bambu. Jadi Gandrang Bulo memiliki arti tabuhan bambu.

Gandrang Bulo secara harfiah memiliki memiliki arti tarian yang diiringi oleh tabuhan gendang dan bambu sebagai instrumen utama.

Tarian ini menggabungkan antara tarian, musik dan teater menjadi satu pertunjukkan.

Tarian Gandrang Bulo ternyata sudah muncul sejak zaman raja-raja Gowa. Pada masa tersebut tarian ini disebut dengan tarian klasik. Namun saat penjajah mulai memasuki Sulawesi Selatan, tarian ini sudah mulai berevolusi.

Tari Gandrang Bulo termasuk salah satu kesenian tradisional khas Sulsel yang hingga kini masih dilestarikan.

Tarian Gandrang Bulo sering digunakan sebagai media penyampaian kritik sosial baik terkait dengan isu politik hingga budaya, namun dikemas dengan humor. 

Pada zaman penjajahan tarian Gandrang Bulo dijadikan sebagai tempat pembangkit semangat perjuangan.

Tarian ini biasanya ditarikan oleh 14 orang dewasa namun saat ini sudah banyak ditarikan oleh anak-anak.

Para anak-anak yang menari biasanya dirias menggunakan jenggot dan kumis sehingga membuat tarian ini semakin kocak. 

Tarian dilakukan dengan kreasi gerakan yang lincah dan mengundang tawa seperti gerakan menggendong teman dari belakang, menirukan monyet dan vampir, hingga mengadu badan.

Selain itu para penari memegang bambu sebagai pengiring tarian tersebut. Penari juga harus kompak dengan irama gendang dan kecapi. Dimana tempo musik cenderung cepat, dengan lagu bersyair bahasa Makassar. Lagu yang biasa mengiringi tarian ini ialah Battu Rate Ma Ri Bulang. 

Di dalam pertunjukan, penari akan menyentakkan teriakan sebagai simbol semangat dengan ekspresi yang gembira.

Tarian ini umumnya banyak ditampilkan di acara-acara pernikahan, perayaan festival karnaval.
 

error: Content is protected !!