KabarMakassar.com– Di era ekonomi digital, batas geografis seharusnya bukan lagi menjadi penghalang bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen. Melalui telepon pintar, produk dari berbagai penjuru dunia kini dapat dipasarkan hanya dalam hitungan detik. Namun, bagi banyak masyarakat di pulau-pulau kecil Indonesia, peluang tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan. Keterbatasan akses teknologi, rendahnya literasi digital, dan minimnya kemampuan pemasaran masih menjadi tantangan yang membuat banyak produk lokal sulit menembus pasar yang lebih luas.
Ironisnya, persoalan tersebut bukan terletak pada kualitas produk. Banyak usaha mikro di wilayah kepulauan justru memiliki kekuatan yang tidak dimiliki daerah lain: kekayaan sumber daya laut dan ragam kuliner berbasis hasil perikanan yang autentik. Yang mereka butuhkan adalah cara agar produk-produk tersebut dapat ditemukan oleh konsumen.
Kondisi itulah yang ditemui tim pengabdian Universitas Hasanuddin (Unhas) di Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar. Di pulau wisata ini, Kelompok Mentari yang beranggotakan sepuluh perempuan dan ibu rumah tangga telah lama mengolah hasil laut menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Aktivitas tersebut menjadi sumber tambahan pendapatan keluarga nelayan, tetapi perkembangan usahanya masih terkendala oleh terbatasnya akses pasar, lemahnya pengelolaan usaha, serta minimnya pemanfaatan teknologi digital.
Teknologi yang Menghubungkan Potensi Lokal dengan Pasar
Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian Unhas mengembangkan platform digital “Sea-to-Table”, sebuah pendekatan berbasis komunitas yang dirancang untuk menghubungkan produk kuliner laut masyarakat pesisir dengan konsumen secara lebih mudah dan efisien. Selain menghadirkan ruang pemasaran digital, ide ini juga membangun ekosistem usaha yang mempertemukan potensi lokal, pelaku UMKM, dan peluang pasar dalam satu rantai nilai yang saling mendukung.
Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Seniwati, S.Sos.,M.Hum., menjelaskan, masyarakat pesisir sebenarnya memiliki modal utama berupa sumber daya laut yang melimpah dan keterampilan mengolah hasil perikanan menjadi produk yang bernilai jual. Tantangan terbesar justru muncul ketika produk tersebut harus bersaing di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengandalkan teknologi digital.
“Kami melihat persoalan utama bukan pada kualitas produknya, tetapi pada keterbatasan akses pasar. Karena itu, Sea-to-Table kami rancang sebagai upaya pemberdayaan yang membantu masyarakat memanfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal,” jelas Prof Seniwati, Kamis (9/7)
Transformasi Digital Dimulai dari Peningkatan Kapasitas
Bagi Unhas, teknologi hanyalah salah satu bagian dari proses pemberdayaan. Sebelum memperkenalkan platform digital, masyarakat terlebih dahulu dibekali dengan berbagai keterampilan yang menjadi fondasi pengembangan usaha, mulai dari strategi pemasaran, penentuan harga, penguatan merek (branding), teknik pengemasan produk, peningkatan kualitas olahan hasil laut, hingga pemanfaatan media sosial dan marketplace sebagai media promosi. Pendekatan ini dirancang agar transformasi digital berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Selain transfer pengetahuan, tim pengabdian Unhas juga memperkuat kapasitas produksi melalui penyerahan berbagai peralatan pendukung, seperti freezer, wajan produksi, timbangan digital, dan timbangan manual.
Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja, menjaga kualitas bahan baku, serta memperbesar kapasitas produksi kelompok usaha perempuan di Pulau Barrang Caddi.
Menurut Prof Seniwati, keberhasilan transformasi digital tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya secara berkelanjutan.
“Yang ingin kami bangun adalah kemandirian masyarakat. Ketika perempuan memiliki keterampilan mengelola usaha, memahami kebutuhan pasar, dan mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk berkembang, maka manfaat program akan terus dirasakan meskipun kegiatan pengabdian telah selesai,” jelas Prof. Seniwati.
Mendorong Ekonomi Perempuan di Kawasan Kepulauan
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa anggota Kelompok Mentari mengalami peningkatan kemampuan dalam mengolah hasil laut, menyusun strategi pemasaran, memperbaiki kemasan produk, hingga memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Program ini juga memperkuat kerja sama antaranggota kelompok sekaligus mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga di kawasan pulau kecil.
Meski demikian, tim mencatat masih terdapat tantangan yang perlu mendapat perhatian, terutama keterbatasan jaringan internet dan perlunya pendampingan berkelanjutan dalam pengelolaan pemasaran digital. Upaya tersebut dinilai penting agar transformasi yang telah dimulai dapat terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir.
Program pengabdian yang didanai melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 ini memperlihatkan bahwa inovasi digital tidak selalu harus lahir dari teknologi yang rumit. Perubahan justru dimulai ketika ilmu pengetahuan mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui solusi yang sederhana, relevan, dan mudah diterapkan.
Rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan pada Sabtu (6/6) di Pulau Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar.
Tim Pengabdian pada Masyarakat Unhas:
Ketua : Prof. Dr. Seniwati, S.Sos.,M.Hum.,
Anggota :
1. Prof. Rahmatia
2. Munif Arif Ranti,S.IP, MA.,
3. Andi Annisar, S.IP., MA.,
Mahasiswa :
1. Rhin Khairina Rahmat, S.IP., MA
2. Muhammad Fajhriyadi Hastira, S.IP., M.H.I
3. Tarhiza Aurelia Qur’ani
4. Andi Sri Wahdaniyah
5. Andi Khadijah Syifa Ramadani.













