KabarMakassar.com — Peternak ayam petelur di Sulawesi Selatan mengungkap tekanan biaya produksi yang semakin berat. Harga jual telur di tingkat peternak saat ini disebut hanya berada di kisaran Rp20.000-Rp21.000 per rak, sementara harga pokok produksi (HPP) telah mencapai Rp43.500 hingga Rp45.000 per rak.
Kondisi tersebut disampaikan Basuki Suyuti dari Aliansi Peternak Rakyat Sulawesi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi B DPRD Sulsel terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan, Kamis (13/08).
Menurut Basuki, tekanan utama berasal dari kenaikan harga pakan yang terjadi sejak April hingga Mei 2026. Kenaikan harga konsentrat disebut berada di kisaran Rp1.000-Rp1.200 per kilogram, yang jika dikonversi menjadi pakan jadi memberikan tambahan biaya sekitar Rp350-Rp400 per kilogram.
“Kalau hari ini kita bicara harga telur, Sulawesi Selatan posisinya Rp20.000. Maksimal bisa jual di end user itu Rp22.000. Secara market umum itu Rp20.000-Rp21.000,” kata Basuki dalam RDP.
Di sisi lain, biaya pakan yang harus ditanggung peternak terus meningkat. Basuki menyebut harga campuran pakan saat ini telah mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram. Kondisi itu membuat HPP produksi telur berada jauh di atas harga jual yang diterima peternak.
“Rata-rata campuran itu di Rp7.500 per kilogram pakan ternak. Itu artinya HPP peternak Rp43.500 sampai Rp45.000,” ujarnya.
Dengan harga jual sekitar Rp40.000 per rak, peternak bahkan disebut masih mengalami selisih kerugian sekitar Rp3.000 per rak. Tekanan tersebut diklaim telah berlangsung selama empat bulan, mulai April hingga Juli 2026.
“Kalau kita jual Rp40.000, artinya kita menambah Rp3.000. Rp3.000 dikalikan berapa produksi rak setiap hari di peternakan-peternakan, itulah kerugian peternak mulai dari April, Mei, Juni, Juli,” tutur Basuki.
Ia mengatakan, kondisi tersebut mulai menggerus kemampuan peternak untuk bertahan. Sebagian peternak disebut mulai mengandalkan aset yang dimiliki untuk menutup biaya operasional.
“Ini sudah mau habis yang bisa digadaikan,” tegasnya.
Soroti Harga Bungkil Kedelai
Selain harga pakan, peternak juga menyoroti kenaikan harga bahan baku pakan, khususnya soybean meal atau bungkil kedelai.
Basuki menyebut bungkil kedelai memiliki kontribusi sekitar 22-25 persen dalam komposisi bahan baku pakan. Ia menilai perubahan harga komoditas tersebut perlu mendapat perhatian karena berdampak langsung terhadap biaya produksi peternak.
Ia juga mempertanyakan struktur pembentukan harga soybean meal setelah adanya kebijakan pemerintah yang memberikan porsi pengelolaan kepada BUMN Berdikari.
Menurutnya, harga soybean meal yang dilepas Berdikari disebut berada di kisaran Rp8.600-Rp8.750 per kilogram, sementara harga di main port Surabaya atau Jakarta yang ia sebut berada di kisaran Rp6.800-Rp6.900 per kilogram.
“Harus ada transparansi di sini struktur pembentukan harga. Kalau hari ini kita mau beli soybean meal, harganya sampai di Indonesia di main port Surabaya atau Jakarta itu setara dengan Rp6.800 sampai Rp6.900,” katanya.
Basuki menegaskan, peternak tidak menolak kebijakan sentralisasi atau kuota impor bahan baku. Namun, kebijakan tersebut dinilai harus mampu memberikan harga bahan baku yang lebih efisien.
“Kami sebagai peternak sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk sentralisasi atau kuota impor. Yang penting adalah kesiapan infrastruktur, logistik dan sebagainya itu ada. Yang peternak mau tahu adalah harganya lebih murah,” jelasnya.
Ia meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan tersebut apabila pada praktiknya justru membuat biaya produksi semakin tinggi.
