KabarMakassar.com — Produk kerajinan dan fesyen asal Jawa Timur mencuri perhatian pengunjung pameran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Makassar.
Tas hingga pakaian batik siap pakai menjadi produk yang banyak diburu selama empat hari pameran.
Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, mengaku penjualan sejumlah produk yang dibawa ke Makassar menunjukkan respons positif. Bahkan, sejak hari pertama, sejumlah tas dan koleksi ready to wear sudah banyak terjual.
“Saya di hari pertama saja waktu kunjungan ke stan, agak sore itu tas yang sudah jadi sudah banyak yang laku. Kemudian baju ready to wear juga banyak yang laku,” kata Arumi di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Minggu (12/7).
Istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak itu pun tak menyembunyikan rasa senangnya melihat produk perajin Jawa Timur diminati pengunjung pameran.
“Senang sih saya. Jadi balik, koper ya kosong semua,” ujarnya.
Dalam HUT Dekranas ke-46, Jawa Timur membuka satu paviliun khusus dengan membawa beragam produk unggulan daerah. Produk tersebut tidak hanya berasal dari tingkat provinsi, tetapi juga melibatkan kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Sejumlah daerah ikut berkontribusi secara mandiri menampilkan produk masing-masing. Di antaranya Kabupaten Bojonegoro dan Kota Surabaya serta sejumlah daerah lainnya.
“Kita buka stan, Jawa Timur punya satu paviliun. Kami membawa cukup banyak produk dari Jawa Timur, kemudian ada juga kontribusi mandiri dari kabupaten dan kota se-Jawa Timur,” jelas Arumi.
Batik menjadi salah satu produk utama yang diboyong ke Makassar. Namun, Jawa Timur tidak hanya mengandalkan penjualan kain batik dalam bentuk lembaran.
Koleksi batik siap pakai justru diperbanyak karena dinilai mengikuti kebutuhan pasar. Arumi menyebut banyak konsumen kini mencari produk batik yang dapat langsung dikenakan tanpa harus kembali dijahit.
“Kita kebanyakan batik. Ada batik yang lembaran, tapi kita juga perbanyak koleksi batik ready to wear karena banyak yang cari batik ready to wear,” katanya.
Selain batik, paviliun Jawa Timur juga menampilkan aksesori, tas dan produk kerajinan berbahan kayu. Beragam sektor kerajinan dibawa untuk memperkenalkan produk perajin daerah kepada pengunjung dari berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Arumi, pameran nasional seperti HUT Dekranas menjadi ruang bagi daerah untuk saling memperkenalkan identitas budaya dan produk unggulannya.
“Kita manfaatkan momen ini untuk bisa saling mengenal. Kita bisa mengenal budaya Makassar dan seluruh pengunjung yang hadir di sini bisa mengenal budaya Jawa Timur,” tuturnya.
Ia berharap Dekranasda terus menjadi wadah bagi perajin untuk meningkatkan kualitas dan kelas produk. Terlebih, pelaku usaha kerajinan masih menghadapi persoalan mulai dari modal, legalitas hingga pemasaran.
“Harapannya selalu bisa menjadi wadah untuk pengrajin dan meningkatkan kelas pengrajin terus dari hari ke hari. Dekranasda bisa membantu menjawab tantangan-tantangan yang ada, mulai dari permodalan, legalitas, sampai pemasaran,” ujar Arumi.
Arumi juga menyinggung besarnya jumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Jawa Timur. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi potensi yang perlu terus diperkuat dengan pendampingan agar produk lokal mampu menjangkau pasar lebih luas.
Bagi Arumi, keikutsertaan Jawa Timur dalam HUT Dekranas di Makassar bukan hanya soal memasarkan produk. Tingginya minat terhadap tas dan pakaian siap pakai menjadi gambaran bahwa produk perajin daerah memiliki peluang untuk menembus konsumen lintas wilayah.
