KabarMakassar.com — Peluang Ilham Arief Sirajuddin (IAS) memimpin DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan melalui mekanisme aklamasi dinilai semakin terbuka menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI.
Pengamat politik menilai keberhasilan IAS membangun konsolidasi pasca menerima diskresi dari DPP Golkar menjadi faktor yang mengubah peta dukungan internal partai.
Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, mengatakan langkah pertama IAS yang menemui Munafri Arifuddin (Appi) setelah menerima surat diskresi merupakan strategi politik yang efektif untuk meredam persaingan sekaligus menyatukan kekuatan kader Golkar.
“Saya lihat konsolidasi internal yang dilakukan IAS pasca menerima diskresi sangat elegan. Terutama karena langkah pertamanya adalah menemui rival utamanya, Munafri Arifuddin,” kata Nurmal dalam keterangannya, Rabu (01/07).
Menurutnya, pertemuan tersebut diduga menghasilkan kesepahaman politik yang tidak dipublikasikan. Kesepahaman itu, lanjutnya, menjadi pintu masuk bagi IAS untuk membangun komunikasi dengan para pemilik suara, termasuk loyalis Appi di tingkat DPD II.
“Saya yakin pertemuan awal dengan Appi itu menghasilkan beberapa konsensus yang tak dibuka ke publik. Kemungkinan IAS telah meminta izin kepada Appi untuk maju dan mendekati para loyalisnya di DPD II. Itu yang membuat proses konsolidasi berjalan lebih mudah,” ujarnya.
Nurmal memprediksi Musda Golkar Sulsel berpotensi berlangsung singkat apabila tren dukungan kepada IAS terus menguat. Menurutnya, peluang aklamasi semakin besar jika hanya IAS yang mampu memenuhi syarat minimal dukungan pencalonan.
“Saya meyakini, jika melihat konstelasi terakhir, Musda Golkar ini akan selesai dalam hanya beberapa jam alias aklamasi. Jika proses konsolidasi internal IAS terus berjalan sukses maka kemungkinan hanya dirinya yang mampu memenuhi syarat 30 persen dukungan untuk maju di Musda,” katanya.
Ia juga menilai kondisi yang terjadi tidak menunjukkan Appi berada dalam posisi terdesak. Sebaliknya, terdapat kemungkinan Appi sengaja memberikan ruang kepada IAS sebagai bagian dari upaya menjaga soliditas Partai Golkar menjelang Musda.
“Kuncinya memang ada pada pertemuan IAS dan Appi sehari setelah diskresi diberikan. Ada konsensus yang tidak dibuka ke publik dan itu diduga menjadi bagian dari upaya menyatukan kembali kekuatan kader Golkar menjelang Musda,” pungkas Nurmal.













