kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Peneliti Ahmad Baso Tampilkan Jejak Syekh Yusuf Lewat Manuskrip Asli

Peneliti Ahmad Baso Tampilkan Jejak Syekh Yusuf Lewat Manuskrip Asli
Peneliti Manuskrip Nusantara, Prof. Dr. K.H. Ahmad Baso, saat menjelaskan di Dialog Budaya memperingati Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Peneliti Manuskrip Nusantara, Prof. Dr. K.H. Ahmad Baso, memaparkan hasil penelitiannya mengenai jejak keilmuan Syekh Yusuf Al-Makassariy melalui manuskrip asli yang masih tersimpan di sejumlah perpustakaan dunia.

Paparan itu disampaikan dalam Dialog Budaya memperingati Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassariy yang menjadi bagian dari Festival Aksara Lontaraq Vol. VII 2026 di Makassar, di Auditorium UIN Alauddin Makassar, Kamis (9/7).

Dalam pemaparannya, Ahmad Baso menegaskan bahwa kajian tentang Syekh Yusuf harus bertumpu pada sumber primer berupa manuskrip asli, bukan hanya pada penuturan sejarah yang berkembang selama ini.

Menurutnya, naskah tulisan tangan Syekh Yusuf masih tersimpan di sejumlah perpustakaan internasional, seperti di Princeton University, Berlin, London, Paris, hingga Amerika Serikat.

“Yang mestinya mahasiswa UIN Makassar harus tahu adalah tulisan asli beliau. Kajian tentang Syekh Yusuf harus dimulai dari sumber-sumber aslinya, termasuk manuskrip yang masih tersimpan di berbagai perpustakaan dunia,” kata Ahmad Baso.

Ia menjelaskan salah satu manuskrip penting berada di Princeton University dengan ketebalan 138 halaman. Menurutnya, naskah tersebut merupakan salah satu bukti autentik tulisan tangan Syekh Yusuf yang telah melalui proses verifikasi oleh para ulama.

Ahmad Baso mengungkapkan manuskrip itu memuat identitas Syekh Yusuf yang menuliskan dirinya sebagai Al-Jawi Al-Makassariy. Dari penelusuran terhadap teks asli, ia juga menemukan penyebutan ‘Al-Mancalawi’ yang diyakini merujuk pada Moncongloe, wilayah di Sulawesi Selatan.

“Kalau bicara historiografi Syekh Yusuf, kita harus memeriksa langsung tulisan tangannya. Dari manuskrip itu terlihat bagaimana beliau menyebut identitas dirinya sendiri, termasuk asal-usulnya,” ujarnya.

Ia juga memaparkan bahwa keaslian manuskrip tersebut dibuktikan melalui metode mukabalah atau kolasi, yakni proses pencocokan dengan naskah lain oleh sejumlah ulama.

Berdasarkan penelitiannya, manuskrip Syekh Yusuf telah diverifikasi antara lain oleh Syekh Abdul Rauf Singkil, Muhammad Said Al-Qauwani, dan Syekh Ahmad bin Al-Banna Ad-Dinyari.

Selain mengungkap jejak keilmuan, Ahmad Baso menyebut manuskrip asli itu turut meluruskan sejumlah informasi sejarah mengenai silsilah Syekh Yusuf. Dari tulisan tangan tersebut, nama ayah Syekh Yusuf disebut Abdullah, sedangkan nama kakeknya adalah Abul Khair.

“Naskah asli ini menjadi rujukan penting untuk mengoreksi data sejarah. Di dalamnya disebut jelas Yusuf bin Abdullah bin Abul Khair, sehingga kita mempunyai dasar yang bersumber langsung dari tulisan beliau sendiri,” katanya.

Ahmad Baso juga mengungkap adanya manuskrip lain yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Naskah tersebut berasal dari koleksi Banten dan disebut ditulis di Aleppo, Suriah, pada 1665, sehingga menjadi salah satu bukti perjalanan intelektual Syekh Yusuf ketika menuntut ilmu di Timur Tengah.

Ia berharap salinan maupun replika manuskrip-manuskrip tersebut dapat dihadirkan di Makassar sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan intelektual Syekh Yusuf sekaligus memperkuat kajian akademik mengenai ulama asal Sulawesi Selatan itu.

“Kalau manuskrip aslinya tidak bisa dibawa, minimal salinan atau replikanya dapat dihadirkan di Makassar agar menjadi warisan ilmu bagi generasi mendatang,” tutupnya.

error: Content is protected !!