KabarMakassar.com — BASASulsel Wiki melaksanakan Gelar Wicara dalam menyambut bulan pendidikan yang mengangkat tema “Pemertahanan dan Pelestarian Bahasa Daerah di Era Milenial.
BASASulsel Wiki juga menggandeng Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, dan Duta Bahasa SulselBar sebagai pembicara dalam Gelar Wicara yang dilaksanakan, Selasa (23/05) di PIPO Mall.
Kepala Bidang PKLK Bahasa dan Sastra Daerah Disdik Provinsi Sulawesi Selatan Andi Mashari mengatakan bahwa tidak bisa pungkiri bahasa daerah sebagai bahasa ibu terpinggirkan sebagai dampak dari pengaruh globalisasi.
“Kita tahu bahwa bahwa bahasa dan budaya adalah ciri khas suatu daerah dan dalam skala yang lebih luas itu bahasa dan budaya menjadi ciri khas suatu bangsa,” pungkasnya.
Menurutnya, melalui Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan diperkuat untuk pembelajaran bahasa daerah di setiap satuan pendidikan yang diatur dalam Pergub No 79 Tahun 2018 diwajibkan menggunakan bahasa daerah di setiap hari Rabu dan Jumat.
Di Provinsi sulawesi selatan saja ada banyak suku, yakni Makassar, Bugis, dan Toraja. Selain itu di setiap hari Kamis, dinas pendidikan memberikan terobosan baru untuk mempertahankan bahasa daerah melalui “smart school”.
“Melalui kerja sama dengan BASASulsel dan dinas pendidikan program Wikithon menjadi salah satu bentuk pemertahanan dan pelestarian bahasa daerah,” ucapnya.
Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Widyabasa Ahli Madya menyampaikan bahwa “Slogan Balai Bahasa Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.
Itu artinya bahwa kita tetap menjadikan bahasa Indonesia sebagai pemersatu, bahasa negara kita sesuai sumpah pemuda yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia, akan tetapi kita tidak boleh melupakan bahasa daerah kita.
Oleh karena itu, kita selalu melestarikan dan bukan berarti juga tidak boleh belajar bahasa asing karena untuk kebutuhan perkembangan zaman ke depannya.”
Melestarikan bahasa daerah bukan cuman tugas Balai Bahasa, bukan cuman tugas badan pembinaan bahasa di Jakarta, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan pemerintah setempat, dalam hal ini Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.
Balai bahasa sudah tiga (3) tahun berturut –turut melaksanakan revitalisasi bahasa daerah dengan menyasar secara khusus penutur muda. Balai Bahasa dan Kemenristek yang tidak ragu menggolontorkan anggaran yang banyak untuk menyelenggarakan kegiatan melestarikan bahasa.
Duta Bahasa Balai Provinsi Sulawesi Selatan Anggi Azizah Maz mengugkapkan bahwa peran kaum milenial dalam melestarikan bahasa daerah, jujur sebelum bergabung di balai bahasa, bahasa daerah hanya sebagai bahasa ibu kita yang dipakai di rumah saja, sebagian besar milenial di kota menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari, akan tetapi kalau mereka kembali ke kampung barulah mereka memakai bahasa daerahnya.
“Di balai bahasa sangat menggaungkan revitalisasi bahasa dan itu kami sangat rasakan bagi kaum milenial dan kami duta bahasa” Bebernya.
Melihat fenomena sekarang apalagi di Kota Makassar banyak sekali anak muda yang menggunakan bahasa Indonesia yang campur-campur baik dalam posisi formal maupun non formal. Kegiatan yang kami lakukan setiap tahunnya untuk melestarikan bahasa daerah yakni mencari duta-duta bahasa baru.
Sehingga Gelar Wicara “Pemertahan dan Pelestarian Bahasa Daerah di Era Milenial” diharapkan mampu memberikan motivasi dan menumbuhkan rasa kecintaan anak milenial untuk menggunakan bahasa daerah-nya di setiap aktivitas kesehariannya, agar bahasa daerah tidak tergeser oleh bahasa serapan asing yang masuk dalam lingkungan keseharian kita.













