Indeks
News  

Milad ke-72, UMI Perkuat Reputasi Akademik dan Perluas Dampak Global

Milad ke-72, UMI Perkuat Reputasi Akademik dan Perluas Dampak Global
Universitas Muslim Indonesia (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Memasuki usia 72 tahun, Universitas Muslim Indonesia (UMI) menargetkan percepatan transformasi digital, penguatan reputasi akademik, serta perluasan jejaring internasional sebagai fokus pengembangan institusi pada Tahun Akademik 2026–2027.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi UMI dalam memperkuat daya saing sebagai perguruan tinggi Islam berkelas dunia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan global.

Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib mengatakan transformasi yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik kampus, tetapi juga pembenahan tata kelola, digitalisasi layanan, dan peningkatan kualitas akademik.

Menurutnya, sejak menerima amanah sebagai Pelaksana Tugas Rektor pada September 2024 hingga ditetapkan sebagai rektor definitif pada Desember 2024, fokus utama yang dilakukan adalah memulihkan kepercayaan publik dan membangun fondasi transformasi jangka panjang.

“Universitas hidup dari kepercayaan masyarakat. Karena itu, langkah pertama yang kami lakukan bukan membangun gedung atau program baru, tetapi memperkuat kepercayaan melalui tata kelola yang lebih baik, komunikasi yang lebih terbuka, dan budaya kerja yang lebih kolaboratif,” ujar Prof. Hambali.

Ia menegaskan bahwa universitas yang besar bukan hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau luas kampus, tetapi dari kemampuannya menjaga amanah, beradaptasi terhadap perubahan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Salah satu program utama yang kini dijalankan adalah implementasi Master Plan Digital UMI 2025–2029 melalui pembangunan ekosistem UMI Connection. Platform tersebut akan mengintegrasikan seluruh layanan utama universitas, mulai dari akademik, keuangan, kemahasiswaan, sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, alumni, kerja sama, hingga pengelolaan aset dalam satu sistem digital yang saling terhubung.

Sistem tersebut juga akan dilengkapi Executive Dashboard berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu pimpinan universitas dalam pengambilan keputusan strategis berbasis data. Bersamaan dengan itu, UMI mulai menerapkan Rencana Anggaran Amanah Tahunan (RAAT) yang terintegrasi dengan Indikator Kinerja Utama (IKU), sistem penjaminan mutu, akreditasi, dan pemeringkatan nasional maupun internasional.

“Jika pembangunan fisik adalah tubuh universitas, maka digitalisasi adalah sistem sarafnya. Karena itu kami membangun UMI Connection sebagai fondasi Smart Campus UMI masa depan,” tegasnya.

Selain mempercepat digitalisasi, UMI juga memperkuat identitasnya sebagai perguruan tinggi Islam dengan mengintegrasikan profesionalisme, spiritualitas, dan teknologi dalam budaya kampus. Sejumlah kebijakan diterapkan, di antaranya absensi berbasis ibadah, larangan gratifikasi, pedoman pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), hingga penguatan budaya kerja yang selaras dengan pelaksanaan ibadah berjamaah.

“Kami ingin menghadirkan paradigma baru bahwa disiplin tidak hanya lahir dari pengawasan, tetapi dari kesadaran bahwa bekerja adalah ibadah dan kampus adalah tempat menumbuhkan keberkahan,” ungkap Prof. Hambali.

Dari sisi akademik, UMI saat ini memiliki 13 fakultas, satu program pascasarjana, dan 68 program studi dengan jumlah 27.264 mahasiswa aktif, 142.995 alumni, 1.035 dosen aktif, serta 117 guru besar. UMI juga telah mengantongi Akreditasi Institusi Unggul.

Dalam dua tahun terakhir, universitas ini membuka empat program studi baru, yakni Doktor Ilmu Akuntansi, Magister Teknik Industri, Pendidikan Profesi Guru Agama, dan Magister Kenotariatan. Selain itu, dua program doktor baru, yaitu Doktor Teknik Kimia dan Doktor Teknik Sipil, masih menunggu izin operasional. Saat ini sekitar 82,3 persen program studi UMI telah berstatus mutu Unggul, Baik Sekali, A, dan B.

Upaya internasionalisasi juga terus diperkuat. Pada tahun ini, UMI kembali dipercaya menjadi perguruan tinggi tujuan Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dengan menerima dua mahasiswa asal Sudan dan Nigeria. Secara keseluruhan, UMI kini memiliki 27 mahasiswa asing dari tujuh negara, yang menunjukkan meningkatnya daya tarik kampus tersebut di tingkat internasional.

Produktivitas riset juga mengalami peningkatan. Hingga 2026, UMI mencatat 1.457 dokumen terindeks Scopus, 7.776 sitasi Scopus, 191.137 sitasi Google Scholar, 39 jurnal terakreditasi SINTA, satu jurnal terindeks Scopus, 54 penelitian BIMA pendanaan nasional, 109 peneliti aktif BIMA, enam paten, satu perlindungan varietas tanaman, serta 378 Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain itu, universitas ini telah melaksanakan 566 Program Kampus Berdampak di berbagai wilayah Indonesia.

Pada sektor kemahasiswaan, prestasi mahasiswa meningkat signifikan. Sepanjang 2025, mahasiswa UMI meraih 75 prestasi nasional dan internasional, atau meningkat sekitar 226 persen dibanding sebelumnya. Tahun 2026, UMI juga dipercaya Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek sebagai tuan rumah nasional Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Penguatan pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari strategi pengembangan institusi. Saat ini UMI didukung oleh 10 kampus yang tersebar di Makassar, Bantaeng, Pangkep, dan Barru, tiga rumah sakit pendidikan dan layanan kesehatan, 36 desa binaan di 23 kabupaten pada enam provinsi di Kawasan Timur Indonesia, serta tujuh pesantren binaan di Sulawesi Selatan.

Memasuki Tahun Akademik 2026–2027, UMI menetapkan periode tersebut sebagai Tahun Akselerasi Transformasi. Fokus utamanya meliputi implementasi penuh Kurikulum Outcome-Based Education (OBE), penguatan RAAT berbasis IKU, percepatan digitalisasi melalui UMI Connection, hilirisasi riset dan inovasi, serta peningkatan posisi dalam pemeringkatan nasional maupun internasional.

“UMI tidak hanya ingin menjadi perguruan tinggi yang besar, tetapi perguruan tinggi yang relevan, adaptif, dan berdampak. Karena masa depan tidak dimiliki oleh mereka yang paling nyaman dengan masa lalu, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan,” tegas Prof. Hambali.

Prof. Hambali menekankan pentingnya membangun kepemimpinan yang berbasis kolaborasi dalam menjalankan transformasi institusi.

“Kami tidak akan membangun kepemimpinan yang super power, tetapi membangun super team. Karena kejayaan tidak lahir dari kehebatan satu orang, melainkan dari kebersamaan orang-orang yang saling menguatkan,” pungkasnya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version