Indeks
News  

Menteri Agama Buka MQK Internasional di Wajo, Serukan Semangat Hidupkan Golden Age

Menteri Agama Buka MQK Internasional di Wajo, Serukan Semangat Hidupkan Golden Age
Suasana saat pembukaan MQK Internasional di Pesantren As'adiyah Kabupaten Wajo (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka secara resmi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional perdana di Pesantren As’adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa ajang ini merupakan langkah awal untuk menghidupkan kembali semangat kejayaan peradaban Islam yang pernah gemilang pada masa lalu.

Pondok pesantren menurutnya telah lama menjadi fondasi sistem pendidikan di Indonesia. Sejak abad ke-14, lembaga pendidikan ini sudah dikenal sebagai pusat lahirnya tradisi keilmuan yang kuat dan sistematis.

“Seandainya tidak ada kecelakaan sejarah, di mana komunitas Islam pada waktu itu kalah secara politik, maka tentu kita akan menemukan universitas yang terkemuka. Mungkin bukan UGM, bukan ITB, bukan IPB, dan bukan perguruan tinggi umum yang lain. Mungkin yang kita temukan adalah Universitas Lirboyo, Universitas Darul Ulum yang ada di Jombang, dan Universitas As’adiyah,” ujar Menag.

Ia menilai bahwa pesantren memiliki peran besar bukan hanya dalam membaca dan mengkaji kitab kuning, tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kecerdasan pesantren akan terlihat saat bisa membaca berbagai disiplin ilmu lain yang mendukung kemajuan umat.

“Karena itu, Pondok Pesantren di mana pun juga berada harus cerdas, bukan hanya asyik membaca kitab kuning, kitab turats, tapi juga seharusnya punya kemampuan untuk membaca kitab-kitab putih, kitab-kitab yang menyangkut masalah sosiologi, kitab-kitab politik, dan kitab-kitab sains, dan seterusnya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Menag menyinggung sejarah keilmuan Islam yang runtuh setelah jatuhnya Baghdad pada 1258. Sebelum masa itu, ia menggambarkan bahwa para ulama memiliki keilmuan yang integratif, menguasai ilmu agama sekaligus ilmu umum.

Ia kemudian mencontohkan Jabir Bin Hayyan sebagai ilmuwan yang luar biasa, meski hidup tanpa dukungan fasilitas modern. Menurutnya, para ulama di masa lalu melahirkan ilmu pengetahuan melalui kesungguhan spiritual yang tinggi.

“Jabir Bin Hayyan dalam biografinya, Bapak ilmu kimia, tanpa ada laboratorium. Kok bisa Bapak ilmu kimia tanpa laboratorium? Pada sekarang ini, disiplin ilmu yang paling manja terhadap laboratorium adalah ilmu kimia itu sendiri. Apa laboratoriumnya para ulama Pra-Baghdad? ialah sajadah tengah malam,” ungkap Menag.

Ia menambahkan, sejarah mencatat betapa ulama pada masa itu mampu menyatukan ilmu dengan spiritualitas. Dari situ lahir tokoh-tokoh besar yang komprehensif, yang namanya hingga kini masih dikenang dunia.

“Barang siapa yang menuntut ketinggian martabat, terutama keilmuan, ternyata banyak bergadang di malam hari. Bukan main game, tetapi takhallus sambil membaca. Lihatlah, 27 ilmuwan lahir pada masa Pra-Baghdad, di zaman pemerintahan al-Ma’mun dan Bapaknya, Harun ar Rasyid,” tuturnya.

Menag juga menyinggung betapa karya ulama di masa kejayaan Islam sangat dihargai. Setiap buku yang mereka hasilkan bahkan ditimbang dengan emas. Menurutnya, kondisi itu berbeda jauh dengan tradisi keilmuan setelah kejayaan Baghdad runtuh.

Melalui MQK Internasional, ia berharap pesantren dapat kembali menghidupkan semangat ilmuwan muslim masa lalu. Ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa Arab merupakan kunci untuk memperdalam kajian keagamaan dan membuka jalan bagi kebangkitan peradaban Islam modern.

“Makanya itu urgensi MQK ini, anak tangga pertama untuk meraih masa jayanya Islam, seperti yang pernah terjadi. Tidak mungkin kita bisa mendalami agama Islam tanpa memahami bahasa Arab. Makanya itu, upaya untuk mengajak seluruh pondok pesantren dan lembaga pendidikan lain, mendalami bahasa Arab adalah salah satu upaya untuk memperdalam kajian-kajian keagamaan Islam,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan pentingnya memahami kitab suci dengan moderasi beragama. Menurutnya, semakin dalam seseorang memahami ajaran agamanya, maka ia akan semakin toleran terhadap perbedaan.

“Kami juga selalu mengimbau, mari umat beragama mengajak kepada kita, para warganya, untuk lebih mendalami kitab sucinya masing-masing, untuk mendalami kitab turas masing-masing. Kami sungguh sangat yakin, ini bukan hipotesis, tapi ini mungkin bisa disebut teori saya, semakin dalam kita memahami ajaran agama kita masing-masing, maka kita akan semakin moderat dan semakin toleransi,” pungkasnya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version