kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Meity Rahmatia Ajak Warga Makassar Tanamkan Nasionalisme Anak dari Keluarga

Meity Rahmatia Ajak Warga Makassar Tanamkan Nasionalisme Anak dari Keluarga
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Meity Rahmatia (Dok : Ist).

KabarMakassar.com — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Meity Rahmatia, mengajak masyarakat Kota Makassar untuk kembali menanamkan nilai-nilai cinta tanah air kepada anak-anak sejak usia dini.

Menurutnya, pendidikan nasionalisme paling kuat justru berawal dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga.

Ajakan itu disampaikan Meity dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Hotel Myko Makassar, Dalam kesempatan itu, Meity menekankan pentingnya ketahanan budaya di tengah derasnya arus informasi dari teknologi dan media digital yang sangat cepat dan tanpa batas.

“Teknologi dan media digital hari ini menjadi wahana informasi yang luar biasa cepat, melimpah, dan mudah diakses termasuk oleh anak-anak. Informasi ini sifatnya personal, langsung antar individu, tanpa ada penyaring. Maka yang bisa menyaring hanyalah literasi dan pemahaman personal. Kalau itu tidak dimiliki, maka informasi ini justru bisa mereduksi rasa nasionalisme dan cinta tanah air,” ujarnya, Rabu (18/06).

Politikus PKS itu menyoroti kian menipisnya wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z. Padahal, nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika telah terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional. Namun, menurut Meity, kurikulum saja tak cukup bila tidak dibarengi dengan budaya literasi yang kuat di kalangan pelajar.

“Masalahnya, budaya membaca anak-anak kita masih minim. Sementara pengaruh media digital membawa nilai dan kebudayaan baru dari luar Indonesia yang tidak selalu sejalan dengan karakter bangsa kita,” jelas Meity, yang juga merupakan anggota Komisi XIII DPR RI.

Ia menilai, tantangan dalam menjaga nasionalisme bukan hanya berasal dari luar, melainkan juga dari dalam, yaitu lemahnya ketahanan keluarga dalam menjadi benteng pertama pembentukan karakter.

“Di sinilah pentingnya peran keluarga. Mendidik anak-anak kita sejak kecil untuk memahami dan mencintai Indonesia tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Itu harus mulai dari rumah, dari ayah dan ibu,” tuturnya.

Meity mengajak kepada seluruh peserta untuk mulai kembali menghidupkan semangat cinta tanah air di dalam rumah masing-masing. Ia menegaskan bahwa nasionalisme bukan hanya urusan negara, melainkan tanggung jawab kolektif, terutama di era globalisasi informasi.

“Keluarga adalah fondasi utama. Kalau dari rumah anak-anak sudah paham tentang bangsanya, maka tak mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar. Mari tanamkan kembali empat pilar ini mulai dari lingkungan terkecil: keluarga,” pungkas Meity.

Kegiatan sosialisasi ini turut menghadirkan tokoh masyarakat Sulawesi Selatan, Zulkifli, sebagai narasumber pendamping. Ia memperkuat pandangan Meity dengan menekankan pentingnya kesadaran orang tua dalam memfilter arus informasi digital yang masuk ke anak-anak mereka.

“Kalau orang tua tidak punya kesadaran nasionalisme dan tidak mampu mengarahkan anaknya dalam memilah informasi, maka di situlah ancaman sesungguhnya. Kita harus kembali menghidupkan nilai-nilai empat pilar dalam keluarga,” ucap Zulkifli.

Ia menambahkan, dari pengalamannya terlibat dalam pembinaan remaja dan kelompok karang taruna di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, banyak anak yang lebih memahami tren digital global dibanding sejarah nasional.

“Saya pernah tanya, siapa yang hafal lima sila Pancasila, dan dari 20 remaja, hanya lima yang bisa menjawab lengkap. Tapi saat ditanya tentang tren TikTok terbaru, hampir semuanya tahu,” ungkap Zulkifli.

Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm bahwa pendidikan kebangsaan perlu dimodernisasi, tetapi tetap harus dimulai dari keluarga sebagai basis nilai.

“Kita tak mungkin melawan arus digital, tapi kita bisa membentengi anak-anak dengan pemahaman yang kuat soal jati diri bangsanya,” tegasnya.

Zulkifli pun mengajak orang tua dan pendidik untuk aktif memperkenalkan nilai-nilai Empat Pilar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai hafalan, tetapi sebagai bagian dari praktik dan pembiasaan.

Loading

error: Content is protected !!