KabarMakassar.com — Mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 6 Universitas Pancasakti Makassar menggelar sharing session bertema “Mengapa Dunia Kerja Butuh Public Relation” di Aula Universitas Pancasakti Makassar, Sabtu (27/6).
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa untuk memahami peran penting public relation atau hubungan masyarakat dalam dunia kerja, baik di sektor pemerintahan, perusahaan, media, maupun organisasi.
Sharing session tersebut dibuka oleh dosen pengampu mata kuliah Public Relation, Ardiyanti, S.I.Kom., M.I.Kom.
Dalam sambutannya, Ardiyanti, S.I.Kom., M.I.Kom mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori di ruang kelas, tetapi juga memperkuat kemampuan mahasiswa dalam memahami kebutuhan dunia profesional.
“Public relation hari ini tidak hanya berbicara soal komunikasi, tetapi juga tentang bagaimana membangun kepercayaan, menjaga citra lembaga, mengelola informasi, dan membangun relasi yang baik dengan publik,” ujar Ardiyanti.
Ia menegaskan, mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, serta kepekaan terhadap perkembangan isu di masyarakat.
Menurutnya, dunia kerja saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjadi penghubung antara lembaga dan publik secara profesional.
“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa PR memiliki peran strategis dalam dunia kerja. Seorang PR harus mampu menyampaikan pesan dengan tepat, membangun citra positif, serta menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak,” katanya.
Sementara itu, pemateri Delfi Agustob, S.H.Int., menyampaikan bahwa public relation memiliki peran penting dalam membangun reputasi sebuah institusi atau perusahaan.
Menurutnya, hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan kemampuan komunikasi publik, mulai dari menyusun pesan, menghadapi audiens, mengelola krisis, hingga menjaga kepercayaan masyarakat.
“Dunia kerja membutuhkan public relation karena setiap lembaga perlu berkomunikasi dengan publiknya. Tanpa komunikasi yang baik, pesan bisa salah dipahami dan citra lembaga bisa terganggu,” jelas Delfi.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan adaptasi bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang komunikasi.
Menurut Delfi, perkembangan teknologi digital membuat praktisi PR harus mampu memanfaatkan media sosial, media massa, dan berbagai kanal komunikasi secara bijak.
“Mahasiswa Ilmu Komunikasi harus mulai membangun kemampuan sejak sekarang. Tidak cukup hanya bisa berbicara, tetapi juga harus mampu menulis, menganalisis isu, memahami audiens, dan menjaga etika komunikasi,” tambahnya.
Sementara, Pemateri Anjelina Zahra, mahasiswa semester 6 Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Makassar, turut berbagi pandangan mengenai pentingnya public relation bagi mahasiswa.
Ia menilai, kegiatan sharing session ini menjadi ruang diskusi yang membuka pemahaman mahasiswa tentang peluang kerja di bidang komunikasi.
“Sebagai mahasiswa, kami melihat public relation sebagai bidang yang sangat dekat dengan dunia kerja. PR dibutuhkan untuk membangun hubungan, menyampaikan informasi, dan menjaga kepercayaan publik,” ujar Anjelina.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar mahasiswa semakin siap menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan studi.
“Sharing session seperti ini sangat bermanfaat karena mahasiswa bisa belajar langsung tentang peran PR secara nyata. Harapannya, kami bisa lebih percaya diri dan siap bersaing di dunia profesional,” tuturnya.
Kegiatan ini berlangsung interaktif dengan diskusi antara pemateri dan mahasiswa.
Melalui sharing session tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Makassar diharapkan semakin memahami bahwa public relation memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang efektif, menjaga reputasi, serta memperkuat hubungan antara lembaga dan masyarakat.













