Indeks
News  

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pancasakti Sukses Menggelar Seminar Public Speaking, Gaet Ratusan Peserta

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pancasakti Sukses Menggelar Seminar Public Speaking, Gaet Ratusan Peserta
(Foto : Dok. KabarMakassar)

KabarMakassar.com — Ratusan mahasiswa mengikuti seminar public speaking yang diadakan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pancasakti semester 7, di Aula Universitas Pancasakti, Jumat (28/11).

Dimana, seminar tersebut mengangkat tema “Seberapa Penting Public Speaking di Dunia Kerja”

Seminar ini merupakan output pembelajaran dari mata kuliah Public Speaking dan Retorika yang diampu oleh dosen Ardiyanti, S.I.Kom., M.I.Kom dan menghadirkan 3 narasumber  dari kalangan akademisi, praktisi hingga dunia industri.

Wakil Dekan FISIPOL, Nurdyansa, S.IP., M.I.Kom sangat mengapresiasi ikegiatan seminar public speaking yang diadakan oleh mahasiswa ilmu komunikasi.

“Fakultas sangat mengapresiasi pelaksanaan seminar ini, karena menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mempraktikkannya dalam bentuk kegiatan nyata. Di era kompetitif seperti sekarang, dunia kerja mencari lulusan yang bukan hanya pintar, tetapi juga mampu berkomunikasi, berkoordinasi, dan memimpin,” tutur Nurdyansa.

Saat Wakil Dekan FISIPOL, Nurdyansa, S.IP., M.I.Kom Membuka Kegiatan Seminar Public Speaking.

Kemampuan public speaking akan menentukan bagaimana seseorang menyampaikan gagasan, memengaruhi orang lain, dan membangun jejaring profesional.

“Seminar ini menjadi wadah yang tepat untuk mengasah kemampuan tersebut dan membuka wawasan peserta tentang pentingnya komunikasi efektif,” ucapnya.

Dosen pengampu mata kuliah public speaking dan retorika, Ardiyanti, S.I.Kom., M.I.Kom, menegaskan bahwa kemampuan berbicara di depan publik sudah menjadi kompetensi dasar di dunia kerja.

“Seminar ini bukan sekadar tugas mata kuliah, tetapi latihan nyata bagi mahasiswa untuk merasakan langsung bagaimana merancang, mengelola, dan menyampaikan sebuah event komunikasi. Di dunia kerja hari ini, public speaking bukan lagi keahlian tambahan, tetapi kebutuhan utama. Entah mereka nanti bekerja sebagai humas, marketing, birokrat, jurnalis, ataupun entrepreneur, semua akan berhadapan dengan situasi di mana mereka harus menyampaikan ide secara jelas, meyakinkan, dan bertanggung jawab,” ujar Ardiyanti.

Saat dosen pengampuh mata kuliah public speaking Ardiyanti, S.I.Kom., M.I.Kom memberikan sambutan.

Ia berharap setelah kegiatan ini, mahasiswa tidak lagi melihat public speaking sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai alat untuk membuka peluang baik dalam karier maupun pengembangan diri.

“Melalui seminar ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori public speaking, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam praktik. Tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini, di mana komunikasi menjadi kunci kesuksesan,” harapnya.

Siti Ramadana, Founder Sit Speaking sekaligus Gold Medalist Seoul International Fair 2024, menegaskan bahwa kemampuan berbicara dapat membuka peluang hingga ke level internasional.

“Saya berdiri di panggung internasional bukan karena saya paling pintar, tetapi karena saya berani tampil dan mau terus belajar memperbaiki cara saya berbicara. Public speaking bukan hanya soal pandai bicara, tetapi juga soal bagaimana kita menyusun pesan, memahami audiens, dan menjaga etika dalam berkomunikasi,” jelas Siti.

Di dunia kerja, kemampuan berbicara bisa membedakan siapa yang hanya menjadi ‘pemain belakang layar’ dan siapa yang siap menjadi pemimpin. Presentasi proyek, negosiasi dengan klien, mewakili perusahaan di depan public semuanya membutuhkan public speaking.

“Saya berharap teman-teman mahasiswa mulai serius melatih diri dari sekarang, karena kesempatan besar sering datang melalui momen-momen ketika kita diminta berbicara,” sambungnya.

Pemateri, Ir. Syahril Ningki, ST, M.Ikom, MM, Store Area Operation AZKO Wilayah Sulawesi, Papua dan Maluku, memberikan perspektif dari dunia industri.

“Dari kacamata perusahaan, kami tidak hanya mencari karyawan yang mampu bekerja, tetapi juga yang mampu menjelaskan pekerjaannya. Public speaking di dunia kerja itu bukan sekadar berdiri di panggung, tetapi juga bagaimana Anda menjelaskan laporan ke atasan, mempresentasikan strategi ke tim, sampai menyelesaikan masalah di lapangan dengan komunikasi yang tepat,” terang Syahril.

Banyak kandidat sebenarnya kompeten secara teknis, tetapi gagal meyakinkan saat wawancara kerja karena tidak mampu menyusun jawaban dengan jelas dan terstruktur. Di level manajerial, kemampuan berbicara menjadi faktor penentu: siapa yang siap dipromosikan, siapa yang dipercaya memimpin cabang, siapa yang mewakili perusahaan di forum-forum penting.

“Jadi, kalau ingin karier berkembang, latih kemampuan bicara Anda mulai dari sekarang,” tegasnya.

Ahmad Maulana, mahasiswa Ilmu Komunikasi Pancasakti selaku pemateri juga berbagi pengalaman dan sudut pandang dari perspektif generasi muda.

“Banyak dari kita sebenarnya punya ide bagus, tapi tenggelam karena tidak berani bicara. Padahal, dunia kerja itu sangat menghargai orang yang bisa menyampaikan pendapat dengan runtut dan percaya diri. Saya sendiri dulu sering gugup, tangan gemetar, suara bergetar. Tapi saya belajar bahwa gugup itu wajar, yang penting kita tidak berhenti mencoba,” ujar Maulana.

Public speaking itu keterampilan yang bisa dilatih, bukan bakat bawaan. Mulai saja dari hal kecil, berani bertanya di kelas, presentasi dengan lebih terstruktur, dan menerima kritik dengan lapang dada.

“Kalau kita mau ‘gagal’ di kampus saat latihan, kita akan lebih siap ketika berada di dunia kerja yang sesungguhnya,” tambahnya.

Saat Dosen Pengampuh Mata Kuliah Public Speaking Ardiyanti, S.I.Kom., M.I.Kom, foto dengan panitia seminar.

Sementara, salah satu peserta seminar dari kampus STIKS Tamalanrea Makassar Ramlah mengungkapkan bahwa public speaking tidak hanya penting untuk orang komunikasi, tetapi juga untuk semua jurusan.

“Sebagai mahasiswa, saya merasa materi yang disampaikan sangat relevan dengan persiapan kami menghadapi dunia kerja. Saya jadi lebih paham bahwa percaya diri itu bisa dilatih, bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul,” ungkap Ramlah.

Saat foto bareng pamateri dan moderator.

“Harapan saya ke depan, kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan dan mungkin diperluas menjadi pelatihan berkala, agar kami bisa langsung praktik dan mendapatkan feedback. Saya juga berharap bisa menerapkan ilmu yang saya dapat hari ini ketika nanti melamar kerja, presentasi skripsi, maupun saat terjun langsung ke dunia profesional,” tambahnya.

Dengan adanya seminar ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Pancasakti semester 7 tidak hanya berhasil menyelesaikan tugas mata kuliah, tetapi juga menghadirkan ruang belajar bersama yang mempertemukan dunia akademik dan profesional, sekaligus menegaskan kembali bahwa public speaking adalah keterampilan kunci dalam menghadapi persaingan di dunia kerja.

Diakhir Acara foto bersama peserta, panitia dan pemateri.

error: Content is protected !!
Exit mobile version