KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2025 mencapai 23,85 juta jiwa, atau setara 8,47 persen dari total populasi nasional.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,2 juta jiwa dibandingkan data September 2024, yang mencatat 24,05 juta jiwa atau 8,57 persen. Dari sisi persentase, terjadi perbaikan sebesar 0,1 persen poin.
Menanggapi data tersebut, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB, Maman Imanul Haq, menyambut positif capaian tersebut, namun mengingatkan pemerintah agar tidak terlena. Menurutnya, meski tren kemiskinan membaik, keberadaan hampir 24 juta jiwa penduduk miskin masih menjadi tantangan besar yang perlu penanganan serius dan berkelanjutan.
“Penurunan angka kemiskinan ini patut disyukuri, tapi jangan sampai membuat pemerintah lengah. Ini bukan sekadar angka, tapi jutaan manusia yang hidup dalam kondisi sulit,” kata Maman dalam keterangan resminya, Minggu (29/07).
Maman yang duduk di Komisi VIII DPR yang membidangi urusan sosial dan keagamaan menekankan pentingnya program pemberdayaan berbasis komunitas, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan jaminan sosial nasional sebagai pilar utama penanggulangan kemiskinan.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya transparansi dan ketepatan sasaran dalam distribusi bantuan sosial. Menurutnya, penguatan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dan sinergi lintas kementerian serta daerah menjadi kunci percepatan penurunan kemiskinan yang lebih signifikan.
“Pemerintah harus fokus bukan hanya pada perbaikan angka statistik, tapi benar-benar memastikan kebijakan yang menyentuh dan mengubah kehidupan masyarakat miskin,” tegasnya.
Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan dihitung melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, yang digelar dua kali setahun Maret dan September. Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa hasil Susenas menunjukkan adanya tren perbaikan, namun mengingatkan bahwa angka tersebut tetap mencerminkan jutaan penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Secara makro, angka 23,85 juta jiwa masih mencerminkan bahwa sekitar 1 dari setiap 12 penduduk Indonesia hidup dalam kondisi miskin. Capaian ini menjadi sinyal positif, namun sekaligus peringatan bahwa perjuangan melawan kemiskinan masih jauh dari usai.
Maman Imanul Haq berharap, dengan keberpihakan kebijakan yang nyata terhadap rakyat kecil, Indonesia dapat menurunkan angka kemiskinan secara lebih drastis di tahun-tahun mendatang.
