Indeks
News  

Jerit Petani Buttusappa Pinrang Ditengah El Nino: Sawah Retak, Padi Kerdil

Jerit Petani Buttusappa Pinrang Ditengah El Nino: Sawah Retak, Padi Kerdil
Penampakan Sawah Petani di Di lingkungan Buttusappa, Kelurahan Tadokkong, Kecamatan Lembang (Dok: KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Ancaman El Nino kian nyata dan mulai dirasakan petani di Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Di lingkungan Buttusappa, Kelurahan Tadokkong, Kecamatan Lembang Pinrang, hamparan sawah yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga kini mulai mengering.

Tanah di sejumlah petak sawah terlihat pecah-pecah, sementara tanaman padi tumbuh tidak merata bahkan sebagian gagal berkembang akibat minimnya pasokan air.

Kondisi tersebut mulai dirasakan sejak Juni 2026 dan semakin parah memasuki Juli. Sejumlah petani masih mampu mempertahankan tanaman mereka dengan mengandalkan pompa air atau sumur bor, namun jumlahnya terbatas sehingga tidak semua lahan bisa diselamatkan.

Salah seorang petani, Azis, mengatakan kemarau yang berkepanjangan membuat sawah di wilayahnya kehilangan pasokan air. Menurutnya, kondisi itu diperburuk oleh saluran irigasi yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian saat musim kemarau.

“Sawah di sini mengalami kekeringan sejak bulan Juni, tapi yang paling parah di bulan Juli. Memang masih ada beberapa sawah yang bertahan dengan mengandalkan pompa air, tapi hanya sedikit,” ujar Azis kepada KabarMakassar, Minggu (26/07).

Azis menceritakan kondisi sawah miliknya yang memprihatinkan, pada bagian lahan yang terdampak, permukaan tanah retak-retak akibat kekeringan, tanaman padi bahkan tumbuh kerdil dengan warna hijau yang mulai menguning.

“Seperti yang dilihat memang begini kondisinya di sawah yang harusnya ada air sekarang pecah-pecah tanahnya, itu padinya juga lebih pendek dari usia tumbuh,” jelasnya.

Azis menuturkan, persoalan utama bukan hanya karena minimnya hujan, tetapi aliran irigasi dilingkungannya belum baik. Upaya warga mencari sumber air alternatif melalui pengeboran pun tidak selalu membuahkan hasil.

“Sebenarnya sawah ini masih bisa tertolong kalau dialiri air beberapa hari tanpa terputus. Sekarang sudah tidak ada lagi aliran air. Bahkan keluarga saya sudah beberapa hari mencoba mengebor di beberapa titik, tapi tetap gagal mendapatkan air,” katanya.

Akibat kekurangan air, sebagian tanaman padi terancam gagal panen. Retakan tanah semakin melebar dan pertumbuhan padi terhambat karena kelembapan lahan terus menurun.

Menurut Azis, kekeringan yang terjadi bukanlah peristiwa baru. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan setelah dampak dirasakan petani, tetapi juga menyiapkan langkah antisipasi sebelum musim kemarau datang.

“Kekeringan ini bukan baru sekarang, hanya saja kali ini lebih panjang. Seharusnya pemerintah sudah tahu keluhan petani karena ini sudah beberapa kali terjadi. Jangan setelah sawah kering baru ada bantuan dan ini terjadi berulang,” ujarnya.

Ia menilai perbaikan saluran irigasi dan penyediaan sumur bor di sejumlah titik persawahan menjadi solusi yang lebih dibutuhkan dibanding bantuan yang datang setelah tanaman telanjur rusak.

“Kalau saluran irigasi dibenahi dan sumur bor disiapkan sebelum kemarau, petani masih punya andalan saat air mulai berkurang. Jangan sudah kering begini baru bantuan diluncurkan karena tidak semua bisa tertolong,” katanya.

Azis juga mengungkapkan bahwa kondisi berbeda masih ditemukan di beberapa wilayah lain di Pinrang yang memiliki jaringan irigasi lebih baik. Meski demikian, ia menilai air hujan tetap memiliki peran penting bagi pertumbuhan padi.

“Di daerah lain yang irigasinya bagus memang masih ada air saat kemarau. Tapi petani percaya air hujan tetap dibutuhkan karena sangat membantu pertumbuhan dan pembentukan bulir padi,” tuturnya.

Sementara itu, Kabupaten Pinrang menjadi daerah dengan capaian penyerapan gabah tertinggi di Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga pertengahan 2026.

Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) mencatat penyerapan di daerah tersebut telah mencapai 89.839 ton, melampaui kabupaten lainnya.

Kepala Perum Bulog Kanwil Sulselbar, Fahrurozi, mengatakan posisi kedua ditempati Kabupaten Sidrap dengan penyerapan 79.032 ton, disusul Parepare. Menurutnya, tingginya capaian di wilayah tersebut didukung oleh ketersediaan infrastruktur pengadaan dan penggilingan yang lebih lengkap dibanding daerah lain.

“Pengadaan terbesar se-Sulawesi Selatan itu dicapai oleh Kabupaten Pinrang. Yang kedua Sidrap, kemudian Parepare. Memang secara infrastruktur penyerapannya paling banyak ada di sana, sehingga akumulasi penyerapan terbesar tercatat di wilayah tersebut,” kata Fahrurozi, Jumat (24/07).

Ia menjelaskan, meski gabah yang diserap tidak seluruhnya berasal dari Pinrang dan Sidrap, keberadaan fasilitas penggilingan dan jaringan pengadaan yang memadai membuat hasil panen dari sejumlah daerah lain turut masuk dan tercatat di kedua wilayah tersebut.

Di tengah statistik daerah dengan capaian penyerapan gabah tertinggi, El Nino mengancam para petani di Buttusappa kini hanya berharap pasokan air mengalir agar tanaman yang tersisa masih dapat diselamatkan dan potensi gagal panen tidak semakin meluas.

error: Content is protected !!
Exit mobile version